Menemukan Diri Sendiri

Aku berakhir menemukan bukan siapa-siapa melainkan diriku sendiri.

Selama ini aku berjuang demi seseorang, ternyata orang itu adalah diriku sendiri.

Ketika ditanyakan, apalagi ditekan mengenai untuk siapa aku berbuat. Jawabannya tak lain dari diriku sendiri.

Ketika aku berusaha mencari pengalihan ke luar. Yang selama ini aku cari ternyata ada di dalam.

Ketika semua mulai meninggalkan diriku, orang-orang lainnya berdatangan dan kini tak ku lewatkan partisipasinya.

Mungkin sesekali aku mempertanyakan, bahkan hingga saat ini kenapa aku begitu sakit diperlakukan buruk. Tak lain karena aku mengundang mereka sendiri. Menciptakan kisah buruk ku sendiri hanya untuk mengingatkan diriku tentang diriku sendiri.

Ternyata rumah memang diri sendiri.

Ketika aku merasa aku kalah maka aku biarkan aku kalah dengan juara dan damai.

Melepaskan sesuatu, kini jadi lebih mudah ketika mencapai tahap kehidupan ini.

Aku jadi tahu siapa yang layak dipercaya dan siapa yang bukan.

Bahwa hidupku, perjalanan ini, melalui hitungan yang akurat. Itu sebabnya adil itu berlaku jika seseorang telah menemukannya.

Advertisements

Waktu Berdoa

Aku diberikan waktu untuk berdoa cukup lama. Ada sekitar tiga jam termenung di taman Rumah Sakit Hasan Sadikin kemarin siang.

Aku berkata pada diriku sendiri, “aku lelah diperlakukan begini di Garut. Aku butuh beristirahat yang kekal.”

Sementara itu, pikiran mulai merambah menelaah peristiwa demi peristiwa yang sudah dilalui. Narasi diuraikan sepanjang apa yang bisa aku ingat. Aku menyalin keterangan dan menganalisis. Waktu memang panjang tapi kesadaran waktu dalam jiwa itu terasa seperti satu abad.

Makhluk apa yang sebenarnya bisa melihat antara waktu dan kejadian?

Doa dilantunkan berbenturan dengan pikiran “itu tidak adil, aku berhak melakukan pembalasan.” Namun pembalasan terbaik adalah dengan berpindah, move on. Sekali lagi, “aku lelah diremehkan orang lain.” Kemudian “tolonglah untuk sekali mengerti.” Akhirnya, “cukup untuk sekian. Dua tahun aku berusaha kalian hanya mengerti sedikit.”

Aku maknai bahwa ternyata tujuan utamaku untuk meninggalkan pekerjaan ku di Garut adalah untuk menyembuhkan diriku yang terluka. Aku merasa ada sesuatu yang direnggut dariku. Itu adalah perasaan berkapasitas untuk mampu melakukan sesuatu. Aku juga sadar bahwa aku tidak bisa bekerja seperti pengajar pada umumnya. Bahwa aku punya standar sendiri untuk melakukan pekerjaan ku serta taraf profesionalitas yang baik. Itu semua tidak ditunjang dengan lingkungan kerja yang baik dan pantas.

Memang membangun sebuah program ekstrakurikuler dari nol itu bukanlah hal yang mudah

Doa tak sekedar berharap melainkan perenungan mendalam. Tak lama setelah pikiran ini berkembang. Ku temukan titik tenang bahwa ini adalah yang terbaik yang bisa ku lakukan.

Seorang temanku, Novi datang bersama teman-temannya. Mereka datang menjenguk Lio dan menolong Lio secara optimal. Hingga hari ini.

Loss Leads to Mystery

After all the loss

I shattered myself in a new beginning

A new hope yet a new despair to fight on

Demon of time is ticking

While I stranded, it ran so fast as I running myself to the timeless

Welcome to the timeless dimensions

I had some reflections during my time taking care of Lio, my adoptive brother. I ruminated about the outcomes of my decision. I realised that my departure from Garut Is an act of misery and a need of recreation. I am aware that I could get back or be thrown away to Garut again. So if that happened again, I will have a new outlook of life. That is because I’m having an all bad attitude, my mind was polluted with corrupted thoughts. I persevere to hold that but I ended up overwhelming.

Conversations of Lio

I contacted my correspondence mate to help me reflect. I wrote in Bahasa.

Me: Aku meninggalkan Saduga. Setelah itu aku fokus pada penyelesaian skripsi. Setelah lulus, aku memulai karir sebagai aktor teater musikal. Karena jadwal latihan mereka hanya pada Sabtu dan Minggu, aku mencari pekerjaan di Bandung.

Itulah yang kini tampak.

Setelah peristiwa di Saduga itu aku memutuskan untuk meninggalkan Garut. Untuk memulihkan persepsi ku tentang Garut dan seisinya.

Sebelumnya kita pernah bahas mengenai atonement. Atonement yang dimaksud sebelumnya pada kasus adalah dengan datangnya Lio
Seorang anak yang jadi penebus dosa bagi dosa asal kedua orang tua ku atas kegagalan mereka membesarkan diriku.

Sebelum adanya Lio. Ibu berpikir bahwa dirinya tak berguna dan berharga karena merasa gagal membesarkan aku.

Banyak hal ternyata salah yang memang sulit diterima oleh ibu. Hingga adanya Lio membuat aku menemukan kesimpulan itu.

Dari lagu Revelation, dilanjutkan Atonement.

FH: Ya ampun, rupanya sampai dimaknai sejauh itu 😮

Me: Itu terjadi di kamarku setelah aku menonton Boy Erased. Aku menangis sejadi-jadinya di kamar, ibu mengejar ke kamar dan ikut menangis.

Aku bilang, “semuanya sudah tersingkap, Lio hadir untuk menebus dosa ibu dan bapak!”
Setelah obrolan itu, aku bercerita padamu tentang dosa asal.

Penebusan dosa itu bagiku adalah pembebasan diriku atas dosa asalku.

FH: Maaf sebelumnya, tetapi apakah kamu merasa bahwa Lio pada akhirnya tidak akan terselamatkan ketika pemaknaan itu muncul?
Aku menyadari itu

Me: Di sisi lain ada pemaknaan bahwa penebusan dosa itu dilakukan dengan tindakan cinta kasih. Sederhananya dengan merawat ia, tumbuh besar. Namun ternyata ujiannya sampai sejauh ini.

Dalam proses merawat Lio aku menemukan makna bahwa aku bisa menyayangi Lio sepenuhnya dan bisa melepas orang yang ku perjuangkan berakhir sia-sia (Huyu, Naufal, Reza).

Di saat menemukan makna itu aku mendapat kabar bahwa Lio dirawat
Pada saat ini ayahku berubah. Yang awalnya tidak peduli pada agama menjadi rajin beribadah dan bershalawat. Tak ku sangka ketika dulu semua luka dan amarah dilimpahkan semua pada ku oleh kedua orang tuaku. Semua kebencian itu sirna karena peristiwa ini.

Aku yang demam kelelahan, beristirahat di rumah. Sementara Lio sedang dalam perjalanan dari rumah sakit Santo Yusup ke RSHS

Aku seperti tahu apa yang sedang terjadi. Malah bisa tenang dan percaya pada jalan yang ku lalui ini.
Yang menengok Lio banyak sekali
Terus berdatangan selama tiga hari terakhir.

(End of conversation)

Reminiscent

I reminisce that my recent work of “Akses” choreography showing my later challenges that I will face. As a human going through a journey, this is a mystery that I’m going to solve with Jungian Psychoanalytical Exploration.

Sure, this reflections lead me to a mystery of my own artworks and assure me to continue my study. Even though I meet times that I uncertain of my own life path especially in career.

Orang Julid Jadi Tak Bermakna: Sedikit Pesan Buat Kamu yang Berproyek ke Garut

Seseorang memicu aku untuk bercerita. Hingga keluarlah segalanya dari kedalaman bahwa banyak sekali hikmah yang ku dapat dan aku menyayangkan kenapa ada orang lain yang berlaku Julid padaku. Aku catat rinci kejadiannya bagaimana dan inilah yang didapatkan:

  • Penyebab utama aku bisa meninggalkan kuliah itu karena organisasi Saduga yang gak jalan. Itu oleh Reza.
  • Selama ini aku Mengkader penari kontemporer, awalnya aku dorong Huyu, Iqbal, Yedi. Ternyata yang siap sejak awal itu Hisyam. 😩
  • Aku terus-terusan memperjuangkan Huyu padahal sejak awal sudah ada pertanda sejak awal kalau dia gak bener dan aku mengabaikan itu
  • Aku mengikuti keinginan Naufal secara gila-gilaan hingga mengorbankan peluang pentas ku. Tapi ternyata dia tak mau berjuang lebih. Ternyata yang berjuang ternyata Fadhila.

Penyadaran muncul di akhir ketika aku beneran akan meninggalkan anak-anak. Barangkali mungkin hikmahnya, memberikan penegasan pada apa yang ku lakukan saat ini.

Obrolan mengenai mereka menjadi sebuah pengeluaran, perpanjangan berpikir yang membantu aku untuk mendapatkan pelajaran.

Dalam diri berpikir berulang berharap mereka yang Julid mendapatkan balasannya. Aku sadar ini Julid, jadi aku tahan hasrat itu. Ku putuskan untuk mengamati proses yang terjadi pada mereka sehingga aku bisa belajar. Kejulidan yang dulu pernah terjadi, misalnya ketika kasus perploncoan di sekolah akhirnya aku tumpas dengan mengarahkan anak-anak setelah enam tahun berlalu. Mungkin butuh waktu untuk orang benar-benar belajar.

Ketika bicara tentang Saduga, saya harap anak-anak bisa melewati hantaman keras ombak dari berbagai arah. Saya sudah dua tahun berjuang dan ku pikir itu saatnya dilanjutkan. Itu pun menguji apakah anak-anak sungguh-sungguh untuk mengembangkan diri, kemampuan, dan organisasi. Mungkin banyak anak berpikir bahwa sebaiknya mengurusi kemampuan pribadi dan tak terikat dengan komunitas. Namun anak yang bertahan sadar betul fungsi komunitas maka ia akan bertahan.

Ketika ada anak-anak yang julid maka terjadilah kehilangan makna tentang anak-anak tersebut. Sensasinya seperti ada sesuatu yang terputus. Aku sendiri berpikir bahwa anak itu menjadi korup. Ketika aku menyadari itu, aku melakukan act of mercy. Setelah itu terjadi momen Refleksi seperti yang tertulis dalam postingan ini.

Aku sadar bahwa anak-anak mengalami krisis namun mereka berakhir melakukan hal yang salah. Itu respon alamiah untuk kabur, hampir semuanya. Hanya beberapa anak yang masuk ke kondisi logis dapat menguraikan apa yang terjadi pada dirinya dan melakukan tindakan yang tepat bagi dirinya.

Penutup

Mungkin buat kamu yang mau berproyek di Garut, kamu perlu mempertimbangkan apakah kamu akan menemukan orang yang tepat untuk proyekmu. Karena dalam perjalanan saya selama dua tahun, sangat sulit menemukan orang yang termotivasi dirinya sehingga bisa bertahan, diperlukan kesadaran dan usaha lebih untuk menemukannya (contohnya ketika aku menyadari Hisyam). Kepedulian dan pengetahuan yang kurang, orientasi pada kerja menganjurkan kita buat menjadi berorientasi pada profit tapi hati-hati pada pembengkakkan upah jasa yang kemungkinan akan dituntut. Kerja sukarela pun masih belum dimengerti sehingga sulit untuk bekerja secara pola pikir sukarelawan. Artinya dibutuhkan pendidikan mengenai sukarelawan.

Bendungan Copong: Joanna Sastramita dan Erik Kondor

Membuat cerita fiksi adalah hal biasa. Ditambah kisah romantis jadi daya jual sebuah cerita. Ditambah dinamika yang kini mulai terasa mudah terbaca. Kemudian muncul pertanyaan, kenapa aku ikut-ikutan buat bikin cerita fiksi. Sekedar meluangkan waktu dan menyenangkan diri sendiri. Kenapa? Karena memang cerita dibuat berdasarkan maksud. Jika seseorang menyukai karya, ya mungkin orang tersebut hanya memahami dangkalnya saja. Namun orang yang paham sampai sedalam-dalamnya itu jarang ditemukan.

Kisah ini berseting tempat di Garut. Saya mengambil bendungan Copong sebagai daya tarik utamanya. Pemandangan rural ditambah bendungan megah yang tak terawat, saya sisipkan kisah antara dua kampung di masing-masing sebrang bendungan yang memiliki kepercayaan, sebuah wasiat dari seorang cenayang bahwa jika kedua kampung bersatu maka sungai akan kembali jernih. Terjadilah perkawinan antar warga yang berujung kegalauan karena sungai tak kunjung jernih.

Kampung Gelar dan Kampung Bakti, begitulah namanya. Masing-masing memiliki tradisi dan budaya yang berbeda meskipun sama-sama berlatar belakang suku Sunda. Kampung Gelar ini dipenuhi oleh warga seniman. Masyarakatnya senang berkerajinan, bermain musik, memerankan longsér, menari, dan bersastra. Berbeda dengan masyarakat kampung Bakti yang notabene adalah Kampungnya pekerja.

Ide tentang dua kampung yang saling bersilang karena sebuah keyakinan yang dilontarkan oleh seorang cenayang, kemudian kedua kampung tersebut bersedih berkepanjangan karena sungai tak kunjung jernih. Situasi ini menimbulkan pergesekan hingga berujung sebuah tubrukan, terjadilah tawuran antar warga. Hingga Abah Kanta Sastramita dari Kampung Gelar mencanangkan sebuah festival seni budaya di bendungan Copong bersama bapak Bupati Garut. Festival ini dilaksanakan untuk melerai dua kampung yang bentrok karena bersedih, juga merayakan keyakinan bahwa suatu saat sungai Cimanuk akan kembali jernih.

Abah Kanta Sastramita punya seorang putri semata wayang bernama Joanna Sastramita. Joanna Sastramita tumbuh menjadi gadis yang tinggi semampai, cantik jelita. Joanna ini belum menikah sampai usianya kini 22 tahun. Ia bekerja sebagai gadis kedai kopi dan ketika festival bendungan digelar, ia secara rahasia menjadi penari bulan.

Festival Bendungan Copong ini dibuka dengan sambutan bapak Bupati tiap tahunnya. Festival ini terdiri dari pasar ramai, hiburan, taman lampu, dan ditutup dengan tarian bulan. Kenapa disebut tarian bulan? Itu karena acara ini diadakan bersamaan dengan bulan purnama. Dengan begitu, spirit dan harapan masyarakat kampung Gelar dan Bakti dapat terangkat oleh energi bulan dan mewujud.

Tari ini dilakukan oleh 12 penari, menunjukan masing-masing 12 bulan dalam perhitungan kalender Sunda. Abah Kanta kabarnya sangat senang mengkaji dan meneliti alam.

“Bulan itu indah, punya energi,” katanya.

Sementara kita sudah mengenal mengenai sedikit latar belakang kampung Gelar dan kampung Bakti, kita alihkan perhatian pada seorang Jajaka yang baru saja tiba di Garut. Ia melakukan hitchhiking dari Jakarta. Truk yang ia tebeng menurunkan Jajaka tersebut di sebuah kedai kopi dimana Joanna Sastramita bekerja sebagai gadis kedai kopi.

Joanna tak sekedar menjadi gadis kedai kopi biasa. Joanna ternyata suka menulis puisi dan puisi yang ia tulis ia sampaikan kepada pengunjung kedai kopi. Ini menarik perhatian seorang vlogger yang berambisi untuk mengetahui maksud dari puisi Joanna Sastramita supaya ia bisa membalas puisinya.

Seting kedai kopi ini didasarkan pada Kedai Penyoe Kakopi. Suasananya hangat dan intim sehingga diri jika kalau berkunjung ke sana tak berkenan untuk meninggalkan kedai. Akhirnya diri akan memutuskan untuk memperlama makan atau memesan berulang-ulang atau bisa juga ngobrol berlama-lama dengan kawan ngopi.

Di sana seorang vlogger merekam kejadian di kedai, menulis semua puisi yang disampaikan oleh Joanna pada setiap pengunjungnya. Jajaka yang baru datang kelaparan memasuki kedai kopi, memesan sebuah hidangan sarapan ditemani kopi Cibodas. Joanna dengan santun melayani Jajaka tersebut, menyajikan hidangan dan kopi, memberikannya kepada Jajaka tersebut, dan kemudian…

Joanna Sastramita menyampaikan sebuah puisi.

Jajaka itu berdiri, menatap Joanna, kemudian membalas puisinya Joanna. Entah perasaan apa, ini mungkin jawaban yang tepat hingga vlogger itu tersentak kaget. Joanna kembali ke meja barista, kemudian menghampiri Jajaka tersebut dengan sebuah catatan: “semua biaya layanan hari ini digratiskan. Selamat kau telah berhasil menjawab puisi saya.” Jajaka tersenyum kemudian melanjutkan makanannya. Setelah ia beres makan, Jajaka itu meninggalkan kedai tanpa sepatah katapun. Vlogger berpikir ini fenomenal, mendekati Joanna dan mewawancarainya.

Jajaka itu kita belum ketahui namanya. Ia mengunjungi bendungan Copong, merenung sendirian. Dari jauh terlihat seorang gadis, rambutnya panjang terbawa angin, semakin dekat semakin jelas rupanya. Joanna terlihat mendekat. Pertemuan itu membuat Joanna bercerita tentang kampung Gelar dan kampung Bakti seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Mereka bercerita sambil berjalan mengelilingi bendungan Copong dan tamannya. Dari percakapan itu pula diketahuilah bahwa nama Jajaka itu adalah Erik Kondor. Ia mencari ibunya yang sudah lama ia temui sejak kecil. Erik tak cerita kenapa ia bisa berpisah dengan ibunya. Yang ia tahu ibunya berada di kampung Bakti.

Di akhir percakapan, mereka berdua saling berpamitan. Joanna telah mengantarkan Erik Kondor ke depan gapura Kampung Bakti.

Begitulah dongeng pengantar untuk film yang sedang ku tulis. Mungkin ini bisa jadi kisah romantis seperti yang diinginkan orang-orang. Namun bagi saya, cerita ini adalah sebuah realita. Bagaimana kelanjutannya? Silakan dengan baik berkirim pesan ke kaladianraharja@gmail.com untuk diskusi cerita ini lebih lanjut.

Penemuan Baru Mengenai Emosi dan Kenangan

Saya langsung saja pada penemuan utamanya. Terjadi pola pengalaman kembali sebagai berikut:

  1. Terjadi peristiwa dalam hidup
  2. Muncul emosi
  3. Emosi memanggil kenangan
  4. Kenangan masuk dalam tubuh jiwa
  5. Pemikiran dan pola pikir mengalami regresi, kembali pada saat waktu kenangan terjadi
  6. Diri bertindak réaktif seakan peristiwa traumatik terjadi di hadapannya
  7. Kondisi bertahan selama beberapa waktu bahkan bisa sampai berminggu-minggu
  8. Setelah ditemukan respon yang tepat, krisis akan mereda

Pengalaman kembali yang terjadi semalam, aku hadapi dengan cara yang baru ku pelajari: mengambil pikiran sadar untuk berdamai dengan peristiwa traumatik.

Sebelumnya aku melakukan shadow work, yaitu dengan melakukan venting mengeluarkan semua konten emosional yang terpendam untuk kemudian dianalisis dan dipahami. Pekerjaan itu melelahkan dan telah dilakukan untuk waktu yang lama. Sekedar untuk benar-benar memahami maksud dari konten emosional dan kenangan.

Kini, dengan berdamai dengan diri sendiri, aku fokus pada kesadaran saat ini. Aku mengambil pemikiran bahwa peristiwa yang ku alami kembali sudah berlalu dan tak ada alasan ataupun makna untuk mengungkitnya apalagi meluapkannya pada orang yang terpanggil dalam kenangan. Butuh waktu sekitar 1 jam untuk kembali tenang. Sampai pada akhirnya aku kembali ke kesadaran dan kemudian menyadari bahwa aku tak dapat mengakses beberapa kenangan ketika mengalami emosi tertentu dan juga kenangan tertentu.

Ini beresonansi dengan tulisan yang dulu sekali pernah ku tulis pada blog akademis ku http://rhakakatresna.blog.upi.edu/2015/02/esai-uas-filsafat-manusia-enkripsi-meta-diri-di-balik-multipersona-diri/

Saya gembira bisa melanjutkan tulisan tersebut dengan pendekatan penulisan yang personal

Pengembangan berikutnya jadi fungsi persona yang berdiri sendiri adalah menjadi cakram kepribadian yang sedang mengintegrasikan dirinya. Layaknya Mandala, Mandala kepribadianku pecah. Oleh karena itu, potongan-potongan Mandala itu bekerja sendiri-sendiri.

Saya jelaskan fenomenanya ketika pengalaman kembali terjadi.

Kegalauan yang terjadi ketika krisis adalah akibat dari ketidakutuhan cakram kepribadian. Itu karena kenangan penting untuk mewujudkan harapan terblokir akibat pergantian persona. Jadi peristiwa traumatik membawa aku pada satu persona yang tidak mempunyai akses dari proses yang sebelumnya telah ku bangun. Itu sebabnya kenapa saya merasa kembali ke nol setiap krisis terjadi. Karena di setiap prosesnya aku membangun jembatan untuk dapat mengakses kenangan ataupun emosi yang terblokir.

Proses pemulihan ini beresonansi dengan Kintsugi. Cakram kepribadian yang pecah layaknya mangkok beling yang disatukan dengan emas. Emas perekat itulah yang diwujudkan melalui proses yang ku lakukan: memproses kenangan dan menyambungkan diri dengan cakram kepribadian yang terpulihkan.

Jadi kalau misalkan seseorang masih julid maka mungkin saja orang tersebut terpecah cakram kepribadiannya.

Jadi pengalaman kembali itu sangat berhubungan dengan emosi dan kenangan. Emosi yang kita alami membuat kita mengambil kenangan. Yang jadi masalah adalah aku terjebak dalam kenangan tersebut. Cara untuk keluar adalah berdamai dengan kenangan itu sehingga terwujud penghubung antara cakram kepribadian.

Lebih Mencintai Diri Sendiri

Ku putuskan untuk lebih mencintai diri sendiri, untuk saat ini, daripada terlibat dalam seks bebas. Itu artinya melakukan sesuatu yang sangat dibutuhkan untuk saat ini. Seks memang kebutuhan namun ada cara untuk mengelolanya, kemudian fokus pada pekerjaan yang terpenting untuk saat ini: membangun kestabilan fisik, emosi, keuangan.

Fisik

Kekurangan perawatan diri membawa situasi emosional pada pengorbanan. Demi membuat mood terasa baik, fisik dikorbankan menjadi sakit lambung dan makan berlebih. Hingga badan menjadi rentan dan mudah lelah, pekerjaan yang sebegitu banyaknya tak dapat diselesaikan karena waktu dan tenaga habis oleh membuka status-status WhatsApp dan Instagram. Makan berlebihan, tubuh semakin besar, tidak olahraga karena berpikir tidak punya waktu padahal waktu habis untuk membuka ponsel. Jadi kondisi fisik saat ini dipengaruhi oleh keadaan emosional.

Emosional

Depresi berkepanjangan berlalu, tinggal sisa-sisa trauma dan tugas perkembangan yang belum selesai. Kondisi emosional yang buruk membawa kebiasaan makan berlebih. Kemudian saya melihat badan saya sendiri dan saya dibuat merasa buruk tentang badan saya sendiri, sangat sukses memperburuk kondisi emosional saya.

Cara keluar dari lingkaran setan itu adalah menyadari polanya dan menanggapi peristiwa itu dengan cara yang berbeda seperti, “it’s OK Aku punya badan seperti ini. Saya sadar bahwa saya perlu berolahraga.” Kesadaran seperti itu memunculkan motivasi untuk berolahraga. Perlu dicatat pula bahwa olahraga ini adalah untuk membuat badan bugar. Sadari ketika mulai muncul ambisi yang bisa bikin orang gila-gilaan berlatih.

Yang sulit adalah menghadapi respon emosional terhadap kebutuhan seksual. Untuk saat ini, saya membiarkan diri saya merancap supaya tidak melakukan seks bebas. Kemungkinan seks bebas hadir atas dasar kesadaran bahwa diri ini belum mampu untuk mengendalikan hasrat tersebut. Dengan membiarkan diri begitu, saya mendapatkan pemahaman baru setelah merancap yaitu untuk meningkatkan kualitas hidup. Kembali pada siklus nofap dari awal tak menjadi masalah karena diri paham dengan kondisi diri sendiri.

Keuangan

Membeli secara emosional muncul akibat perasaan yang kacau balau. Kekacauan keuangan merupakan dampak dari kondisi emosional yang kalut: membeli secara berlebihan. Itu terjadi karena ada harapan bahwa membeli sesuatu melegakan sesuatu. Namun setelah itu terpenuhi, diri ingin lebih. Itu menjadi lubang seukuran Tuhan yang tak pernah terpenuhi. Jadi, hentikan dan fokus pada hal yang paling dibutuhkan.

Pencatatan keuangan tetap berlangsung untuk membantu saya menyadari kondisi keuangan. Perencanaan keuangan dan tabungan penting untuk menyelamatkan diri dari situasi genting.