Rumah dan Beban

Ku putuskan untuk meninggalkan beban jauh-jauh di belakang. Beban yang sudah terbuka, diteliti, dan dipahami sudah teringat. Dan tak perlu diingatkan lagi karena sudah berada di tempatnya.

Tak usah dibawa, karena jiwa ini berkata “aku harus segera pulang.” Rumah baru mungkin tak seluas rumah singgah mu yang sekarang. Namun untuk memulai kehidupan yang diri sendiri mandiri adalah sebuah harapan. Sekarang memang tidak mungkin. Sekarang dihadapkan dengan pekerjaan yang satu persatu diselesaikan.

Advertisements

Pendewasaan di Lingkungan Sekolah

[2/11 18.46] Hans: Mengenai inisiasi yang kamu bahas, sepertinya aku sedang melakukannya pada anak-anak didik aku.
[2/11 19.15] Fadzul Haka: Semuanya lancar?
[2/11 19.15] Hans: Aku menyaksikan perubahan yang signifikan
[2/11 19.19] Fadzul Haka: Perubahan yang seperti apa? Dan bagaimana itu bisa terjadi?
[2/11 19.21] Hans: Dalam sikap dan bertindak
[2/11 19.25] Hans: Aku merasakan anak-anak mengambil tindakan yang lebih dewasa
[2/11 19.37] Fadzul Haka: Apa mereka merasa seperti yang kamu rasakan, lebih dewasa?
[2/11 19.37] Hans: Iya, katanya
[2/11 20.34] Fadzul Haka: Jadi mencapai sinergi, ya
[2/11 20.37] Fadzul Haka: Apa dengan menjadi lebih dewasa berarti lebih memahami sesuatunya?
[2/11 21.14] Hans: Anak-anak menjadi menghadapi kembali peristiwa buruk yang pernah ia alami
[3/11 16.31] Fadzul Haka: Inikah masalahnya? Bukannya sama seperti yang kamu alami?
[3/11 16.32] Hans: Mereka menjadi mengalami hal yang sama dengan ku. Melalui proses lebih cepat daripada yang ku alami
[3/11 16.33] Hans: Yang mengalami itu dan gagal memutuskan untuk keluar dari Ekskul
[3/11 16.33] Hans: Pada saat yang seperti ini, anak-anak yang bertahan dan ikut berlatih adalah anak-anak yang bisa saya percaya
[3/11 16.34] Hans: Ini adalah ekskul seni, yang sebelumnya seperti rimba
[3/11 16.35] Hans: Aku sedang menegakkan kedisiplinan
[3/11 16.36] Fadzul Haka: Apa kamu pernah berpikiran kalau ada risiko ‘efek bypassing’, ketika sesuatu berkembang lebih cepat?
[3/11 16.36] Hans: Belum
[3/11 16.36] Hans: Bagaimana efek bypass itu?
[3/11 16.42] Fadzul Haka: Semacam menemukan pemandangan yang sublim pada gambaran tentang diri sendiri, alih-alih tetap waspada dan terus memperdalam pemahamannya, dia malah segera mengklaim dan berusaha kongruen dengan gambaran tersebut. Dan itu memberinya justifikasi untuk perilaku escapism
[3/11 16.44] Fadzul Haka: Namun dia tidak akan menyadari escapismnya, karena merasa seakan telah melalui fase-fasenya
[3/11 16.45] Hans: Perilaku escapism ditunjukkan oleh anak-anak yang keluar dari tim
[3/11 16.45] Hans: Anak-anak tersebut jadi di luar pengawasan saya
[3/11 16.46] Fadzul Haka: Apa masih ada kontak dengan anak-anak itu?
[3/11 16.46] Hans: Tidak ada
[3/11 16.47] Fadzul Haka: Tidak pernah bertanya mengapa mereka pergi? Atau apakah akan kembali?
[3/11 16.47] Hans: Sebelum mereka pergi, aku bertanya pada mereka
[3/11 16.47] Hans: Hampir semuanya menyatakan tidak akan kembali
[3/11 16.47] Hans: Satu anak ku temui berbohong
[3/11 16.48] Hans: Satu anak menyatakan bahwa ia tidak siap melalui proses dalam proyek seni yang dikerjakan
[3/11 16.48] Hans: Satu anak menyatakan bahwa ia ingin menjadi kegelapan dan mengikuti jejak mantan anggota senior yang pernah bermasalah dengan ku, mengambil karya ku tanpa seizin ku
[3/11 16.51] Fadzul Haka: Apa pernyataan tersebut hanya dikondisikan oleh gejala yang kamu ketahui, atau ada intervensi dari luar
[3/11 16.51] Hans: Intervensi dari luar
[3/11 16.51] Hans: Semuanya
[3/11 16.52] Fadzul Haka: Apa saja tanda-tandanya?
[3/11 16.52] Hans: Mereka merujuk subjek lain setiap obrolan
[3/11 16.52] Hans: “kata si anu,”
[3/11 16.52] Hans: “ikut si anu”
[3/11 16.52] Hans: “kata mama”
[3/11 16.52] Hans: “kata papa”
[3/11 16.52] Hans: Dsb
[3/11 16.56] Fadzul Haka: Begitu rupanya, meskipun mereka datang dengan keinginan sendiri, mereka merasa ‘melanggar’ atau melakukannya ‘tanpa seizin’ otoritas lain. Jadi, apakah kamu ingin membuat program pendisiplinan untuk mengantisipasi hal tersebut?
[3/11 16.56] Hans: Iya
[3/11 17.02] Fadzul Haka: Soal pendisiplinan sendiri, apa yang kupelajari dari Foucault adalah bagaimana kekuasaan secara produktif membuat prosedur pendisiplinan dan menghasilkan subjek yang patuh. Prosesnya tidak selalu melibatkan ‘hukuman’ dalam arti mencederai fisik, lebih ampuh ketika kita bisa membuat cara untuk mengawasi sementara orang yang diawasi tidak sadar kalau dirinya diawasi (konsep yang diterapkan pada arsitektur panoptikon). Indikator untuk keberhasilan pendisiplinan adalah ketika subjek menjadi pengawas untuk dirinya sendiri.
[3/11 18.27] Fadzul Haka: Dari tadi aku kepikiran, kenapa kamu memakai diksi kegelapan, apa karena dia bersebrangan denganmu, atau tidak bisa dimengerti kemauannya, atau memang menyimpan niat buruk?
[3/11 18.37] Hans: Anak itu menyebutkan sendiri
[3/11 20.00] Fadzul Haka: Terus apa yang terlihat padanya saat itu terjadi?
[3/11 20.01] Hans: Corrupted
[3/11 20.06] Fadzul Haka: Memangnya hal semacam itu kelihatan?
[3/11 20.07] Fadzul Haka: Apa yang membuatnya bisa dideteksi?
[3/11 21.36] Hans: Penilaian ini muncul begitu saja
[3/11 21.36] Hans: Pernyataan
[4/11 07.03] Hans: Aku memperhatikan setiap kata yang dinyatakan dan menemukan maksudnya
[4/11 18.14] Hans: Value corrupted dicapai jika aku menemukan adanya “mengejar keuntungan pribadi” dan “merugikan orang lain”, “ada sumber trauma dari pernyataan”
[7/11 04.34] Hans: Pendidikan yang ku berikan ternyata memberikan sebuah titik kedewasaan kepada anak-anak. Dimana anak-anak memunculkan perilaku yang kacau, kini menjadi stabil.
[7/11 04.35] Hans: Aku temukan bahwa representasi mental anak-anak mewujudkan siapa saja yang bertahan atau keluar dari tim.
[7/11 04.36] Hans: Artinya, anak-anak yang bertahan memiliki frekuensi yang sama
[7/11 04.38] Hans: Ku temukan pula bahwa ritual kedewasaan ada di sekolah, melalui kegiatan-kegiatan organisasi ataupun pendidikan.
[7/11 04.38] Hans: Hanya saja, ini tidak ditemukan di kelas reguler
[7/11 04.39] Hans: Proyék Drama Musikal yang berlangsung secara tidak langsung mendorong anak-anak untuk menjadi lebih dewasa.
[7/11 04.40] Hans: Evaluasi dari proyék ini adalah bahwa kita mesti melaksanakan pendidikan terlebih dahulu supaya anak-anak siap menghadapi risiko.
[7/11 19.23] Fadzul Haka: Mungkin secara universal pun memang begitu, keberadaan suatu kelompok terpenuhi dan menjadi sempurna bila dia mampu membuka arena untuk menyamakan frekuensi, tersedia sebagai latihan untuk menyamakan frekuensi. Kompak, selangkah dan sehati seperti yang ditampilkan paskibra.
[7/11 19.26] Fadzul Haka: Aku setuju, hanya saja dari pengalamanku sendiri, garapannya belum disadari sebagai ritual tersebut, sehingga anak yang masuk untuk ikut-ikutan atau coba-coba saja begitu keluar tidak memperoleh apa apa untuk dirinya

Menyadari Love Sickness Dan Demam Grandiosa

Aku mulai lelah, aku mulai kehilangan motivasi. Aku sadar aku telah melakukan kesalahan-kesalahan dan kejulidan-kejulidan. Aku mengerti kenapa aku bisa lakukan itu. Aku temukan pula sesuatu tentang love sickness dan demam grandiosa. Itu mendorong aku untuk terus bicara. Aku merasa ingin jadi pusat perhatian dan aku kehilangan kontrol atas diriku. Di akhir aku sadar bahwa aku telah melakukan hal yang menyedihkan.

Love Sickness

Inilah yang terjadi ketika seseorang melakukan segala cara demi menyayangi orang lain. Semakin kuat pengaruh love Sickness, maka semakin besar motivasi seseorang untuk berkorban demi orang yang disayanginya. Namun hubungan yang sesungguhnya adalah give and take. Ini menjadi sebuah penyakit karena cinta yang diberikan adalah sepihak. Sehingga pada akhirnya seseorang akan sadar bahwa usahanya tidak terbalas oleh orang ia sayangi, cinta bertepuk sebelah tangan. Ketika seseorang sadar mereka dilanda love Sickness, seseorang mengalami perasaan pengkhianatan dari dalam dirinya sekedar untuk mengingatkan bahwa perasaan yang muncul selama ini adalah keliru. Cinta yang seperti itu membuat seseorang lupa pada dirinya sendiri, sungguh penghancur produktivitas diri.

Demam Grandiosa

Buat aku sendiri, ini adalah demam yang paling sulit diatasi. Ini muncul pada kelas 4 SD. Motivasinya adalah untuk mengatasi perasaan kesepian. Aku membesar-besarkan suatu cerita hanya untuk jadi pusat perhatian. Ketika aku sadar mengenai demam ini, aku merasa bersalah dan malu. Baru pada usia 22 tahun, saya bisa sadar betul apa yang saya katakan pada orang lain. Ini juga yang mendorong saya untuk menjadi si tukang gosip. Demam ini membuat aku tampak menjadi orang yang beracun. Kini, dengan luka trauma yang sedikit-sedikit teratasi, menemukan pola-pola pertahan diri masa anak-anak telah membantu aku untuk mendewasakan sistem pertahanan diri itu. Ku sadari bahwa demam Grandiosa ini adalah bagian dari sistem pertahanan diri untuk mengantisipasi kesepian.

Rindu akan Kematian

Setiap doa yang ku hembuskan, artinya masih ada harapan yang disemilirkan. Bahkan ketika aku merindukan kematian sekalipun. Perasaan rindu kematian menyelimuti angan ku dan sedikit buat aku tenang.

Apakah aku sudah mendekati akhir hidupku?

Pengorbananku sudah tak terhitung jumlahnya. Bahkan sampai aku berulang kali membuat hidupku penuh resiko. Bahkan ketika saat ini. Semua orang menarik aku untuk tidak putus asa.

Kenapa ini menjadi aspirasi ku untuk terus berjalan?

Aku pikir aku terus berjalan mengikuti perasaan ingin tahu. Kegilaan ini membuat aku menjadi sangat waras. Kepekaan ini buat aku terus mengalam orang lain. Bahkan perasaan sampai terbawa tidur. Aku tak tahu, sebenarnya cukup tidak nyaman. Namun aku sudah terbiasa. Membawa kenangan-kenangan dan perasaan-perasaan orang lain setiap hari hanya semakin membuat aku ingin sendiri dan membersihkan kenangan itu. Aku merasa ingin kabur dan pergi mencari ketenangan. Aku, butuh rumah yang sesungguhnya. Rumah yang tenang untuk berlatih dan berkontemplasi. Seperti sebuah kendram atau padepokan bela diri.

Bukan pesantren, aku masih benci pesantren hingga saat ini.

Bercengkrama dengan Diri Sendiri

Ketika kesepian, diri sendiri bisa menemani diri sendiri. Kenangan muncul sebagai isi perbincangan, refleksinya muncul menciptakan dialog. Waktu yang sangat berkualitas untuk dihabiskan sendiri dan mengobati jiwa yang masih terasa terluka.

Aku ingat bahwa kemarin aku mengalami krisis eksistensial. Aku mempertanyakan apa yang sebenarnya sedang aku kerjakan dan apa tujuan hidupku yang sebenarnya. Aku juga diingatkan bahwa aku telah melakukan kejulidan-kejulidan yang tak sengaja muncul. Ketika seseorang sadar bahwa ia melakukan kesalahan, cukup maafkan diri sendiri dan lanjutkan hidup. Meskipun konsekuensi dari menerima kenyataan, bagi beberapa orang, itu sulit. Aku membiarkan itu berlalu.

Melakukan puasa Daud selama hampir tiga tahun membawa kesenangan tersendiri. Makanan yang biasa pun menjadi terasa sangat nikmat. Aku pun dapat menikmati momen hidupku.

Tersesat

Ternyata dengan mendegarkan dengan saksama. Kemudian menangkap inti pembicaraan seseorang telah berhasil mengarahkan lawan bicara untuk menemukan solusi yang tepat.

Tak terasa semakin banyak orang yang bercerita dan bercengkrama dengan ku.

Namun memang kesepian itu masih melanda diriku.

Seperti yang disampaikan oleh Ranton di video Youtubenya

Aku tampaknya sedang menanti peristiwa hidup yang mengubah hidupku. Dari ceritanya, penjelasan tentang perasaan tersesat mirip sekali dengan yang aku alami saat ini. Meskipun, saya masih bersemangat untuk menyelesaikan proyek drama musikal. Aku merasa bahwa aku akan berpindah pada bentuk kesibukan yang lain.

Aku bermimpi tentang berlatih fisik yang sangat keras dan bertarung dengan orang lain. Terpintas saya ingat sahabat saya dari India, Shinto Matthew. Aku terpikir untuk tinggal di India dan belajar Kalaripayattu selama empat tahun. Mirip seperti téh Uji yang belajar Yoga di India.

Aku seakan dilupakan untuk melanjutkan kuliah. Aku pikir kuliah juga penting.

Itu sebabnya aku memutuskan untuk menahan pilihan dan menunggu momen yang tepat.

Jadi… selama ini aku tersesat.

Cerita Epik

Aku berada di sebuah tempat yang gelap. Aku menyusun segel Abimantrana. Abimantrana artinya berkah. Berkah apakah yang ia maksud?

Tater Diri

Meski sepanjang hari aku terus menuliskan sejarah, kehilangan kamu menjadi makna bagiku.

Mengalam janji yang terhembus lalu terbakar waktu

Tak pernah terwujud, juga akhirnya dilupakan

Tak teruji dan tak ternilai

Bahkan mataku perlahan menutup

Jua tak sakitnya menyaksikan bahwa serangan mengarah dirinya

Bercerita tentang pagi yang terakhir

Kisah hidup Dyah berakhir setelahnya

Sehingga aku saksikan begitu perihnya hati Hayam Wuruk mengetahui kabar itu…

Kebesaran adalah ilusi bagi yang membesarkannya

Kerusakan yang dirasakan, entah, menjadi nyata dan bisa disadari

Kenapa si Fulan melakukan ini pada saya…

Kenapa si Fulan mengarahkan kebohongan pada saya

Lalu bagaimana si Fulan bisa mengatakan bahwa orang lain tidak dapat bekerja dengan baik

Padahal, dari sudut pandang ku bahwa orang itu sudah bekerja dengan baik

Sementara si Fulan yang berkata tidak pernah melakukan sesuatu yang nyata

Lalu si Fulan itu menjadi model untuk menjelaskan ciri-ciri manusia yang tidak baik oleh kawan-kawan saya

Berkata tanpa bertindak, sungguh-sungguh nyata cirinya.

Saya merasa menjadi sasaran luka anak-anak. Kemudian aku terima dan arahkan kembali. Anak-anak, hanya saja, tidak tahu dan tidak dididik bagaimana mengatasi kesulitan itu. Orang tua fokus pada masalahnya, jarang mau tahu bagaimana kesalahan bisa terjadi. Maka ia memutuskan keputusan instan. Keputusan yang secara instan meruntuhkan kepercayaan anak pada orang tua. Aku tertegun, bagaimana mereka mengatasi kesulitan itu? Sama di hampir setiap anak.

Maksudnya, masalah yang dihadapi sama. Masalah kolektif…