Perjulidan

Jalan seperti melayang. Menyusuri jalan pulang dari Cibodas, Garut ke Sukasenang, Garut seperti terbang ke alam mimpi. Berjalan setengah tidur dengan pikiran-pikiran julid bertebaran. Aku berpikir bahwa aku sudah dijulidkan.

Julid itu artinya melakukan sesuatu yang buruk terhadap orang lain. Ketika seseorang memikirkan sesuatu yang julid, ku pikir, ia butuh istirahat. Pikirannya itu sirkular, berputar-putar pada hal yang sama dan bergantian menyalahkan orang lain yang ada di pikiran itu. Di sisi lain ada benarnya dan krisis melayang-layang ini (yang ku sadari karena aku kelelahan) berhasil menyampaikan pemikiran yang tak disadari oleh ku sebelumnya – JULID MODE ON.

Ketika berpikir julid, aku dapatkan bahwa beberapa orang sedang berusaha menjauhi aku dan meminta aku untuk membayar sendiri partisipasi ke suatu acara yang sebelumnya ia minta untuk mengundang aku. Pesan utamanya sederhana, yaitu “to get rid of me”. Aku tertarik untuk mengikuti itu, kemudian seketika aku batalkan karena tidak aman. Aku tidak punya uang ke sana dan tak ada satu pun orang yang mau mendukung aku untuk hadir di acara itu. Peristiwa ini mirip ketika aku mulai perlahan-lahan disingkirkan untuk nonton kegiatan seni di Bandung. Pola tersebut mengarahkan aku buat hanya menonton pertunjukan yang perlu dan bermakna.

Pemikiran-pemikiran julid ini memang membantu di saat aku kelelahan supaya aku menjadi sangat kritis dan mengambil tindakan yang paling diperlukan untuk aku.

Kadang-kadang aku berpikir bahwa orang lain cemburu padaku. Pikiran itu disertai kenangan ketika seseorang berkata padaku bahwa ia sangat cemburu kepada aku. Ketika aku tahu itu, aku menarik nafas panjang. Pemikiran-pemikiran dan kenangan-kenangan itu muncul membludak layaknya banjir yang membasahi jiwa ku. Aku merasa tidak tenang dan nyaman. Bahkan kehilangan pijakan kesadaran.

Setibanya di rumah, aku segera beristirahat di kamar dan menjadi katatonia selama beberapa jam kemudian. Mempertanyakan kenapa aku merasa sangat tidak enak seperti ini dan orang-orang seperti menjauhi dan menyakiti aku. Aku imbangi perasaan itu dengan menyaksikan film dan YouTube (sangat boros tapi sangat membantu). Konten-konten yang ku telusuri beresonansi (terasa sama) dengan apa yang aku alami. Aku tonton konten itu satu per satu hingga mendapatkan tilikan (insight).

Pemikiran julid bahkan masih bertahan hingga malam, kemudian aku tertidur. Keesokan paginya aku menulis ini.

Setidaknya aku tidak lagi terpengaruh oleh pemikiran julid itu. Kini aku dapat memperhatikan pikiran tersebut dan mendapatkan pesan yang jiwa ku berusaha kirimkan kepada ku. Pada saat seperti ini pula, aku sadar ada perbedaan antara jiwaku dan diriku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s