Bendungan Copong: Joanna Sastramita dan Erik Kondor

Membuat cerita fiksi adalah hal biasa. Ditambah kisah romantis jadi daya jual sebuah cerita. Ditambah dinamika yang kini mulai terasa mudah terbaca. Kemudian muncul pertanyaan, kenapa aku ikut-ikutan buat bikin cerita fiksi. Sekedar meluangkan waktu dan menyenangkan diri sendiri. Kenapa? Karena memang cerita dibuat berdasarkan maksud. Jika seseorang menyukai karya, ya mungkin orang tersebut hanya memahami dangkalnya saja. Namun orang yang paham sampai sedalam-dalamnya itu jarang ditemukan.

Kisah ini berseting tempat di Garut. Saya mengambil bendungan Copong sebagai daya tarik utamanya. Pemandangan rural ditambah bendungan megah yang tak terawat, saya sisipkan kisah antara dua kampung di masing-masing sebrang bendungan yang memiliki kepercayaan, sebuah wasiat dari seorang cenayang bahwa jika kedua kampung bersatu maka sungai akan kembali jernih. Terjadilah perkawinan antar warga yang berujung kegalauan karena sungai tak kunjung jernih.

Kampung Gelar dan Kampung Bakti, begitulah namanya. Masing-masing memiliki tradisi dan budaya yang berbeda meskipun sama-sama berlatar belakang suku Sunda. Kampung Gelar ini dipenuhi oleh warga seniman. Masyarakatnya senang berkerajinan, bermain musik, memerankan longsér, menari, dan bersastra. Berbeda dengan masyarakat kampung Bakti yang notabene adalah Kampungnya pekerja.

Ide tentang dua kampung yang saling bersilang karena sebuah keyakinan yang dilontarkan oleh seorang cenayang, kemudian kedua kampung tersebut bersedih berkepanjangan karena sungai tak kunjung jernih. Situasi ini menimbulkan pergesekan hingga berujung sebuah tubrukan, terjadilah tawuran antar warga. Hingga Abah Kanta Sastramita dari Kampung Gelar mencanangkan sebuah festival seni budaya di bendungan Copong bersama bapak Bupati Garut. Festival ini dilaksanakan untuk melerai dua kampung yang bentrok karena bersedih, juga merayakan keyakinan bahwa suatu saat sungai Cimanuk akan kembali jernih.

Abah Kanta Sastramita punya seorang putri semata wayang bernama Joanna Sastramita. Joanna Sastramita tumbuh menjadi gadis yang tinggi semampai, cantik jelita. Joanna ini belum menikah sampai usianya kini 22 tahun. Ia bekerja sebagai gadis kedai kopi dan ketika festival bendungan digelar, ia secara rahasia menjadi penari bulan.

Festival Bendungan Copong ini dibuka dengan sambutan bapak Bupati tiap tahunnya. Festival ini terdiri dari pasar ramai, hiburan, taman lampu, dan ditutup dengan tarian bulan. Kenapa disebut tarian bulan? Itu karena acara ini diadakan bersamaan dengan bulan purnama. Dengan begitu, spirit dan harapan masyarakat kampung Gelar dan Bakti dapat terangkat oleh energi bulan dan mewujud.

Tari ini dilakukan oleh 12 penari, menunjukan masing-masing 12 bulan dalam perhitungan kalender Sunda. Abah Kanta kabarnya sangat senang mengkaji dan meneliti alam.

“Bulan itu indah, punya energi,” katanya.

Sementara kita sudah mengenal mengenai sedikit latar belakang kampung Gelar dan kampung Bakti, kita alihkan perhatian pada seorang Jajaka yang baru saja tiba di Garut. Ia melakukan hitchhiking dari Jakarta. Truk yang ia tebeng menurunkan Jajaka tersebut di sebuah kedai kopi dimana Joanna Sastramita bekerja sebagai gadis kedai kopi.

Joanna tak sekedar menjadi gadis kedai kopi biasa. Joanna ternyata suka menulis puisi dan puisi yang ia tulis ia sampaikan kepada pengunjung kedai kopi. Ini menarik perhatian seorang vlogger yang berambisi untuk mengetahui maksud dari puisi Joanna Sastramita supaya ia bisa membalas puisinya.

Seting kedai kopi ini didasarkan pada Kedai Penyoe Kakopi. Suasananya hangat dan intim sehingga diri jika kalau berkunjung ke sana tak berkenan untuk meninggalkan kedai. Akhirnya diri akan memutuskan untuk memperlama makan atau memesan berulang-ulang atau bisa juga ngobrol berlama-lama dengan kawan ngopi.

Di sana seorang vlogger merekam kejadian di kedai, menulis semua puisi yang disampaikan oleh Joanna pada setiap pengunjungnya. Jajaka yang baru datang kelaparan memasuki kedai kopi, memesan sebuah hidangan sarapan ditemani kopi Cibodas. Joanna dengan santun melayani Jajaka tersebut, menyajikan hidangan dan kopi, memberikannya kepada Jajaka tersebut, dan kemudian…

Joanna Sastramita menyampaikan sebuah puisi.

Jajaka itu berdiri, menatap Joanna, kemudian membalas puisinya Joanna. Entah perasaan apa, ini mungkin jawaban yang tepat hingga vlogger itu tersentak kaget. Joanna kembali ke meja barista, kemudian menghampiri Jajaka tersebut dengan sebuah catatan: “semua biaya layanan hari ini digratiskan. Selamat kau telah berhasil menjawab puisi saya.” Jajaka tersenyum kemudian melanjutkan makanannya. Setelah ia beres makan, Jajaka itu meninggalkan kedai tanpa sepatah katapun. Vlogger berpikir ini fenomenal, mendekati Joanna dan mewawancarainya.

Jajaka itu kita belum ketahui namanya. Ia mengunjungi bendungan Copong, merenung sendirian. Dari jauh terlihat seorang gadis, rambutnya panjang terbawa angin, semakin dekat semakin jelas rupanya. Joanna terlihat mendekat. Pertemuan itu membuat Joanna bercerita tentang kampung Gelar dan kampung Bakti seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Mereka bercerita sambil berjalan mengelilingi bendungan Copong dan tamannya. Dari percakapan itu pula diketahuilah bahwa nama Jajaka itu adalah Erik Kondor. Ia mencari ibunya yang sudah lama ia temui sejak kecil. Erik tak cerita kenapa ia bisa berpisah dengan ibunya. Yang ia tahu ibunya berada di kampung Bakti.

Di akhir percakapan, mereka berdua saling berpamitan. Joanna telah mengantarkan Erik Kondor ke depan gapura Kampung Bakti.

Begitulah dongeng pengantar untuk film yang sedang ku tulis. Mungkin ini bisa jadi kisah romantis seperti yang diinginkan orang-orang. Namun bagi saya, cerita ini adalah sebuah realita. Bagaimana kelanjutannya? Silakan dengan baik berkirim pesan ke kaladianraharja@gmail.com untuk diskusi cerita ini lebih lanjut.

Advertisements

One thought on “Bendungan Copong: Joanna Sastramita dan Erik Kondor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s