Biarkan Aku Mengakhiri Kisah Penderitaan Ini

Aku menulis ini setelah menghadapi krisis depresi semalam. Aku tak bisa melakukan apa-apa selain tidur. Aku berdoa, kemudian berharap pada kisah penderitaan diriku yang tak kunjung usai. Aku meminta pada diriku untuk menerimanya, namun perjalanan ini ternyata tidak sekedar menerima. Bahkan alam dunia ini masihlah kecil untuk ku jelajahi.

Kemudian dalam tidur ku aku menjawab pertanyaan-pertanyaan hidup yang mendasar pula tentang bagaimana mewujudkan kisah ini menjadi sesuatu yang nyata ada di hadapanku. Perasaan gagal menyelimuti diri sendiri. Namun aku tahu bukan itulah maksud dari perasaan ini. Perasaan ini muncul setelah realisasi bahwa apa yang ku lakukan sebelumnya melalui kegagalan. Marah karena saya sendiri tidak bisa mengubah masa lalu, melainkan saya bisa mengubah sikap saya mengenai peristiwa di masa lalu. Seseorang gak bisa begitu saja move on dan meninggalkan begitu saja. Akan datang pada masanya seseorang akan mengevaluasi dirinya dan mengalami kegembiraan dan penyesalan atas apa yang pernah ia lakukan.

Pemaafan memang perlu namun itu bukanlah tujuan utamanya. Seseorang akan dihadapkan pada pilihan untuk berhadapan dengan konsekuensi. Upaya untuk mengevaluasi diri punya konsekuensi. Itu adalah nelangsa. Perasaan sakit yang menandakan bahwa seseorang berpindah dari satu titik ke titik yang lainnya. Ketika ini terjadi biasanya orang menghindari proses ini kemudian mencari pengalihan secara berulang dan terus menerus. Seperti candu, dan memang candu lah yang memberikan kenikmatan di sela keterdiaman seseorang dalam konfigurasi eksistensinya. Saya jadi memahami kenapa orang bisa adiksi pada satu hal. Saya juga mengalami adiksi namun dalam perjalanannya saya sadar bahwa itu adalah bukan hal yang baik. Penyadaran berikutnya membimbing seseorang untuk memodifikasi perilakunya.

Kisah penderitaan ini diakhiri dengan sebuah awal: perawatan diri. Praktik cinta diri yang artinya seseorang mulai memperhatikan aspek-aspek kehidupan yang terdekat dengan dirinya secara fisik. Tubuh diberikan latihan, makan, juga perawatan yang tepat. Bentuk tubuh memang menunjukkan kondisi kejiwaan seseorang. Ada penilaian tertentu yang menentukan penilaian kejiwaan dari penampilan fisik. Bersamaan dengan itu pengolahan jiwa dilakukan dengan membersihkan niat. Ada luka-luka dalam tubuh jiwa yang membuat motivasi seseorang jadi korup. Diri yang korup mengarah pada lingkungan yang korup, pastinya perlulah diperhatikan.

Begitu langkah awal untuk memperbaiki diri.

Advertisements

3 thoughts on “Biarkan Aku Mengakhiri Kisah Penderitaan Ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s