Makna Setelah Saya Berhenti (dan Bagaimana Saya Kembali)

Diriku merasa lega setelah berhasil menjadi manajer proyek untuk BIAF 2019. Setelah peristiwa itu pula aku jadi menyadari orang-orang beracun yang selama ini ada di hidupku. Mereka perlahan-lahan menghilang. Muncul dorongan halus dari diri untuk memutuskan kontak, membersihkan riwayat percakapan, kemudian didapat perasaan lega dan damai. Aku berpikir bahwa pada akhirnya aku melakukan sesuatu yang baik untuk diriku sendiri.

Makna Setelah Saya Berhenti (dan Bagaimana Saya Kembali)

Kejadiannya pada Maret 2019, aku merasa kelelahan, kehabisan pikir, tak tahu mau kemana soal program ekstrakurikuler yang aku rintis. Proyek-proyek gagal dan mentok, anak-anak mulai kabur, kemudian aku mengkritisi diriku sendiri.

Kemudian aku kehilangan harapan soal komunitas yang ku dirikan: Arteworko. Aku putuskan untuk membubarkan mereka setelah proyek Garut Broadway Van Java. Aku mengigau, mendambakan murid-murid yang lain, namun sebenarnya adalah aku sadar apa yang sebenarnya terjadi tapi tak mengerti untuk mengungkapkannya dalam bahasa otak yang lebih verbal. Blok mental ini membuat aku menjadi galau dan menunjuk orang lain yang tidak-tidak, berpikir bahwa mereka melakukan sesuatu hal yang buruk padaku.

Maka terjadilah: aku membubarkan komunitas Arteworko dan keluar sebagai pelatih Saduga. Dengan hati yang hancur berkeping-keping aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tak akan kembali lagi ke Garut.

Mentor ku dari Jakarta mengingatkan aku supaya terus mengawasi ekskul Saduga. Itu sebabnya aku mulai menghubungi anak-anak lagi dan terus mengawasi. Memeriksa prosesnya, dan bagaimana mereka berkegiatan. Ku pikir, jika mentorku tidak menasehatiku untuk mengawasi Saduga maka aku tidak akan kembali lagi ke Garut. Bagiku sendiri, ada hal yang selalu menarik diriku untuk kembali dan beginilah jadinya.

Kemudian pada bulan Mei 2019, seorang gadis menarik aku untuk kembali memulai komunitas seni pertunjukan urban kontemporer. Ku lihat semangat dan potensinya, kemudian aku maafkan diriku sendiri dan membuatkan platform baru untuknya: Gelar Usik. Itulah yang hingga saat ini masih ku kembangkan konsep komunitasnya. Pada pertemuan pertama, aku merefleksikan diriku setelah menari bersama anak-anak sekitar alun-alun Tarogong Garut. Aku memikirkan bagaimana aku dapat melatih dengan perasaan dihargai. Perasaan tersebut yang selama ini hilang selama aku melatih di Saduga. Aku mempertanyakan kenapa aku merasa tidak dihargai selama melatih di Saduga.

Kemudian pada bulan Juni, terjawablah pertanyaan itu. Ketua ekskul merajuk kemudian pelatih pengganti saya terkena kasus di sekolah. Segeralah saya turun untuk mengatasi masalah tersebut dengan singkat: saya turunkan dari jabatan baik pelatih dan ketuanya. Dalam keputusasaan untuk mencari ketua yang baru, seorang anak menawarkan dirinya untuk menjadi ketua. Kemudian anak itulah yang berjalan sebagai ketua dengan baik hingga saat aku menulis postingan ini.

Bagiku sendiri perasaan bahwa aku tidak dihargai selama melatih di Saduga adalah pertanda soal kegagalan ketua yang ku turunkan Juni lalu. Ternyata kualitas personal seseorang menentukan apakah ia layak menjadi ketua atau tidak. Kualitas personal yang buruk bagiku adalah kepribadian yang beracun. Sebuah kualitas yang menyebabkan orang lain bekerja lebih untuk diri tanpa adanya perasaan penghargaan diri pada orang lain.

Yang bikin aku jengah dan kelelahan selama saya di Saduga sebelumnya adalah hubungan dan situasi organisasi yang beracun sehingga kelompok menjadi tidak suportif. Dalam prosesnya di Saduga, saya menyadari memang ada bagian dari diri saya yang beracun juga. Saya menyadari bahwa orang yang beracun mengundang orang beracun lainnya. Segera setelah saya menyadari bahwa saya juga punya pola perilaku seperti itu maka saya lakukan refleksi dan perubahan diri. Proses ini bagi saya tak mudah karena menghadapi kesulitan-kesulitan pribadi yang muncul sejak masa lalu. Dengan mengatasinya, pola tersebut dapat ditawarkan. Kelompok dan lingkungan sosial pun akan merespon perubahan diri. Di saat itu, terjadilah isolasi. Orang-orang dan kelompok akan meninggalkan diri atau sebaliknya. Perubahan dunia ini membantu seseorang untuk dapat mengaktualisasikan dirinya sendiri. Maksudnya, lingkungan dan orang-orang yang ada di dunia seseorang setelah transisi adalah orang yang secara otentik ada untuk diri dan menjadi suportif untuk berbagai kebutuhan perkembangan. Dari situ pula diri akan belajar untuk bersosialisasi dan berkomunikasi. Tak ku sadari sebelumnya bahwa gaya komunikasi ku berubah. Inilah yang aku patut syukuri.

Diriku merasa lega setelah berhasil menjadi manajer proyek untuk BIAF 2019. Setelah peristiwa itu pula aku jadi menyadari orang-orang beracun yang selama ini ada di hidupku. Mereka perlahan-lahan menghilang. Muncul dorongan halus dari diri untuk memutuskan kontak, membersihkan riwayat percakapan, kemudian didapat perasaan lega dan damai. Aku berpikir bahwa pada akhirnya aku melakukan sesuatu yang baik untuk diriku sendiri.

Pada saat ini, aku menyadari bahwa aku butuh bantuan Psikolog untuk mengatasi isu personal ku. Namun karena aku tak sanggup untuk membayar mereka maka aku kembali giatkan untuk melakukan pemulihan personal. Saya kumpulkan bahan-bahan sesuai kebutuhan, mempelajarinya, menerapkannya pada diri sendiri. Saya pribadi menghindari Psikiater dan penggunaan psikofarmaka, oleh karena itu saya menyesuaikan penanganan berdasarkan preferensi saya.

Awalnya ku kira aku akan menggalau dengan melampiaskan masalah yang muncul sejak GBVJ. Namun ternyata yang dikeluarkan menjadi positif dan ku pikir akan membantu orang yang membacanya. Aku bersyukur bisa melalui ini dan senantiasa berdoa supaya dapat melalui depresi kronik ini hingga tuntas.

Penulis: rhakakatresna

your personal you can be~ live in Bandung, INDONESIA

Satu komentar pada “Makna Setelah Saya Berhenti (dan Bagaimana Saya Kembali)”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s