Menghargai jarak dan ruang

Isolasi karena COVID-19 sudah berlangsung cukup lama. Aku sambil kerjakan skripsi sambil nyambi cari jodoh via aplikasi kencan.

Apa aku berhasil dapat kencan?

Tidak, sungguh. Pencarian ini menghasilkan kegagalan.

Photo by Nathan Cowley on Pexels.com

Apa yang ku dapatkan dan temukan adalah diriku sendiri pada akhirnya.

Ku ciptakan jarak dengan seseorang yang ku sukai itu karena dia ternyata sudah punya pasangan dan aku kemudian menciptakan ruang sendiri buat ku. Perasaan tak bisa dipaksakan dan kita perlu buat ruang untuk itu. Di ruang itu aku belajar untuk mengakui perasaan ku dan memahami perasaan itu sampai benar-benar terasa lebih baik.

Aku gak bisa pastikan untuk berapa lama ruang ini ada dan hadir. Namun ternyata ini sangat membantu aku untuk mengalirkan emosi dan perasaan ku keluar dari tubuh aku.

Sesekali aku coba ikuti amarah ini untuk mencari kencan baru di aplikasi kencan.

Aku berburu dengan ambisius. Tak terasa kemudian bangkit lah perasaan tidak layak untuk dicintai. Ternyata aku gak perlu lakukan itu. Aku perlu untuk kembali ke ruang itu dan mengalirkan emosinya.

Ini mungkin yang disebut ruang sendiri dan menikmati kesendirian. Emang karena enggak ada jodoh tapi makna bagusnya adalah momen lajang ini perlu dihargai.

Aku sadar kalau kita dibombardir oleh media supaya mencari pacar, jadi pasangan, kemudian menikah. Padahal kenyataannya gak gitu juga. Gara-gara itu kita digiring untuk percaya kalau jadi jomblo itu adalah penyakit dan orang berusaha supaya dirinya gak jadi sakit. Emang seberapa pentingkah pasangan? Beberapa teman aku pun ada yang maksain dan kebanyakan malah jadi punya hidup yang gak bagus: hubungan beracun, gak dewasa, ekonomi kacau, bahkan putus atau cerai.

Setiap orang punya waktunya sendiri. Meskipun emang ada pilihan, perhatikan kebutuhan yang ada. Supaya pilihan itu tidak menuju kegagalan, maka lakukan apa yang paling dibutuhkan untuk saat ini.

Buat aku itu adalah menyelesaikan studi aku (sekali lagi merasa ditampar karena malah mengalihkan perhatian dari tugas skripsi). Aku sadar penyebabnya. Aku jenuh. Aku ingin selesai tanpa usaha. Itu gak akan pernah terwujud kalau aku gak usaha.

Isolasi diri selama Corona secara psikis bantu orang buat bikin ruangnya sendiri-sendiri. Orang akan frustrasi atau menghargai ruang itu adalah proses masing-masing.

Ini mengingatkan kalau orang perlu belajar buat berhenti dan merefleksikan kembali hidupnya. Pengarahan kembali hidup mungkin bisa terjadi, seperti yang terjadi padaku.

Jaga diri…

Photo by Ksenia Chernaya on Pexels.com

Penulis: rhakakatresna

your personal you can be~ live in Bandung, INDONESIA

4 tanggapan untuk “Menghargai jarak dan ruang”

  1. Haha jomblo itu nasib, single itu pilihan. Cuman ya media sering menggiring opini, bahwa jomblo itu menyedihkan. Nggak wey, nggak semenyedihkan yang dikira, saya jomblo *eh single maksudnya, karena itu pilihan saya. Saya ingin fokus atas apa yang ingin saya kejar, urusan jodoh? Kembali lagi pada takdir yang sudah tertulis. Berusaha? Saya sudah berusaha untuk memperbaiki diri terlebih dahulu. Bukankah pasangan kita adalah cerminan diri kita sendiri yakan?

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s