Praktik Somatik: Konektivitas Tubuh dan Perbedaan Kecepatan Tubuh – Pikiran

Pada pukul 22.00 Kamis, 23 April 2020, saya mengikuti pertemuan praktik somatik bersama bu Alexia Buono dari Buffalo, New York, Amerika Serikat. Ini adalah pertemuan ke-5 yang saya ikuti.

Yang saya pelajari semalam ada dua hal, yaitu: konektivitas antara organ dan bagian tubuh adalah penting, dan kecepatan tubuh saya lebih cepat daripada pikiran saya.

Konektivitas antara organ dan bagian tubuh adalah penting

Ketika menyadari tangan dan lengan saya secara bersamaan, saya merasakan urutan gerakan antar bagian tubuh yang memanjang dari tungkai lengan menuju ujung jari. Makna gestur yang tepat saya sadari mengalir dari ujung ke ujung. Gerakan yang saya lakukan terasa tidak beraturan satu sama lain seperti berlomba untuk segera menyelesaikan sesuatu.

Aku akui memang saya punya kecenderungan untuk mengerjakan dan mendapatkan sesuatu dengan serba cepat hingga akhirnya saya tidak bisa menikmati apa yang saya lakukan. Dengan menyadari gerakan saya sendiri maka saya belajar untuk memelankan gerakan saya dan menemukan koneksi antar satu sama lain. Ketidaksesuaian dapat mengarah kepada cedera, sakit muncul sebagai pertanda bahwa adanya ketidaksesuaian. Kesadaran diperlukan untuk meraih kontrol atas diri. Ketika gerakan dilakukan secara parsial dan terburu-terburu seseorang akan kehilangan kontrol atas dirinya.

Tepat seperti yang terjadi pada saya dalam kehidupan saya.

Perbedaan Kecepatan Pikiran – Tubuh

Saya temukan bahwa butuh waktu lebih lama bagi pikiran dan kesadaran saya untuk menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Sementara tubuh bergerak sendiri dengan cepat dan mengarahkan saya pada sesuatu yang tak disangka-sangka. Terjebak dalam ranah pemikiran itu memperlambat tubuh. Ketika itu dibiarkan pikiran dan tubuh akan berjalan sendiri-sendiri dan menimbulkan disonansi.

Penyesuaian ini saya rasakan perlu. Cara terbaik untuk bisa sadar dan aktif adalah dengan aktif secara fisik dan terus berkegiatan. Tanpa menghambat atau mempercepat itu.

Mungkin diri tampak jadi kurang berpikir namun ide keluar semua ketika diri berhenti sejenak. Jadi tidak usah untuk menuntut kalau pikiran dan ilmu untuk datang terus. Begitulah aplikasi terbaik yang saya temukan untuk menyinkronkan antara badan dan pikiran. Aktifitas membantu diri memproses pemikiran. Kemudian tilikan akan hadir segera setelah prosesnya selesai.

Hasil Lainnya

Saya memproses trauma dan kecemasan saya lagi selama praktik dan pada malam kemarin saya berhasil untuk tidur nyenyak. Biasanya saya bangun tidur dengan gelisah dan merasa kekurangan energi. Aktifitas sehari-hari itu penting dan kita perlu aktif di dalam hidup kita sendiri. Tidak hanya pada pikiran yang merupakan sebagian kecil dari hidup.

Penulis: rhakakatresna

your personal you can be~ live in Bandung, INDONESIA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s