Pengingat Perjuangan Menghadapi Orang Tua

Sebagai pengingat kalau aku sudah melewati masa sulit seperti yang dijelaskan di video di bawah.

Kejadian ini terjadi pada tahun 2016 lalu. Waktu itu aku sangat marah, sedih dan nelangsa. Aku gak terima kalau aku jadi tempat sampah emosional kedua orang tuaku. Hidupku, waktu itu, terasa penuh penyesalan dan kesia-siaan. Yang pada akhirnya aku berkesimpulan kalau orang tua ku itu kurang dewasa dan kurang teredukasi.

Pada waktu itu, aku menemukan bahwa pola asuh orang tua aku beracun sehingga aku berpikir mereka bertanggungjawab atas kesulitan-kesulitan mental dan emosional yang ku hadapi saat itu. Kemudian beberapa tahun berikutnya hingga tahun 2019, aku terjebak dalam depresi hanya untuk mengidentifikasi makna dari penderitaan yang disebabkan oleh orang tua kepada aku.

Dibantu seorang konselor, aku melakukan pembatasan emosional dengan orang tua ku untuk memastikan kalau pengaruh beracun mereka tidak mengganggu kesejahteraan psikologis saya. Sudah berjalan sejak 2019 sampai sekarang. Pernah ada cekcok, pernah ada pertengkaran, hingga akhirnya aku membuat mereka menangis dan menyadari apa yang terjadi kesalahannya.

Letaknya ada di keyakinan atas beberapa hal yang ada di dunia. Yang aku hindari dan cegah adalah mereka menggunakan itu sebagai justifikasi mereka bahwa mereka berhak melakukan kekerasan padaku. Dalam kondisi darurat pada tahun lalu, aku menghubungi P2TP2A Kota untuk perlindungan akibat kondisi keluarga yang senantiasa mencekam.

Memiliki keyakinan yang berbeda rasanya seperti punya dunia yang berbeda. Aku ingat perjuangan aku menghadapi kekerasan dari orang tua dimulai ketika aku SD. Waktu itu aku meminta ibu untuk berhenti pukul aku dan bilang, “aku bukan binatang.” Frustrasi akibat paparan kekerasan dari orang tua dan lingkungan membuat aku belajar untuk membenci diri sendiri dan orang lain. Sebagai pelampiasan karena diri ini penuh dengan hal yang frustrasi.

Ketika ada nilai budaya yang isinya kita perlu menghormati orang tua, yang terjadi padaku adalah aku berjuang sangat keras untuk menghentikan mereka melakukan kekerasan kepada anak-anaknya. Menghormati orang tua bukan artinya pasrah ketika menerima kekerasan. Tetapi bisa mengkomunikasikan dengan jelas kebutuhan dan harapan kemudian menegosiasikan dengan anak. Ketika harapan orang tua tampak tidak mungkin tercapai, orang tua perlu evaluasi soal dirinya sendiri.

Harapan yang diselubungi cinta adalah brutal dan membunuh jiwa anak-anak.

Penulis: rhakakatresna

your personal you can be~ live in Bandung, INDONESIA

2 tanggapan untuk “Pengingat Perjuangan Menghadapi Orang Tua”

  1. Dulu orgtuaku banyak berharap padaku. Beruntungnya aku salah satu yg bisa dibilang penurut. Jadi banyak harapan mereka yg tercapai. Sayang, anak kesayangan selalu tetap yg lbh diutamakan and it wasnt me so i healing my soul alone…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s