Menyadari Diri Sendiri, Hubungan, dan Orang Tua Melalui Film

Tulisan ini saya susun dari status WA teman saya yang bernama Delia. Ia membagikan refleksi dia mengenai perjalanan dia dalam mengatasi dampak dari pola asuh orang tua yang kurang sesuai.

Beberapa waktu lalu, saya menonton film series di Lifetime dan lihat kehidupan si pemeran utama yang secara emosional sama persis dengan nasib aku. Rasanya seperti mengaca selama menonton. Banyak yang dibikin mengerti dan diberikan jawaban yang selama 21  tahun lamanya membuat aku kebingungan dalam menjawab pertanyaan diri sendiri seperti “kenapa aku begitu marah/keras kepala/menghindar?” Aku yang masih mendambakan interaksi yang intim dengan orang lain dan dan merasa sulit untuk menolak tawaran dalam konteks apapun. Dari situ, aku mulai dapat pencerahan karena kondisi rumah dia dan aku serupa dan menemukan benang merah yang sejelas-jelasnya ketika mendengarkan rekaman talkshow terakhir sebelum Pandemi Corona yang narasumbernya menjelaskan bahwa rasa aman yang ditumbuhkan keluarga menciptakan keberanian (security creates courage). Itu adalah momen yang sangat memunculkan momen aha yang pernah saya alami. Apalagi ketika narasumbernya menjelaskan bahwa keamanan dalam keluarga itu dibangun dengan memberikan anak kesempatan untuk menolak dan memilih jalannya sendiri. Sederhananya kalau anak tahu bahwa ia masih bisa merasa aman dengan menolak. Dari situ keberanian mulai tercipta.

Sebenarnya sudah sejak lama aku tahu kalau anak dari orang tua yang otoriter itu sangat buruk dalam membuat keputusan dan memiliki kontrol diri yang rendah (karena kebiasaan diatur sana-sini, akhirnya merasa tidak aman ketika harus mengatur sendiri). Tapi sepertinya konflik itu tingkatnya lebih tinggi lagi dan gak kesampean kalau dipikir pakai akal sehat yang biasa saja. Karena di serial tersebut lebih jelasnya menceritakan si pemeran utama perempuan mendapatkan penolakan habis-habisan dari bapaknya yang akhirnya ketika mendapatkan orang yang dekat di luar sana, ia menjadi melekat berlebihan dan tidak bisa mengontrol porsi kedekatannya, sampai-sampai menjadi pacar dari banyak laki-laki dan tidak punya cukup pendirian untuk mengambil keputusan.

Akhirnya, selama menonton film tersebut, aku empati sampai titik terdalam hingga akhirnya dia merenung dan bilang, “aku tahu sebenarnya dari mana kemarahan ini datang” dan aku rasanya seperti “sialan, aku tahu itu juga sekarang!” Dari situ, aku benar-benar diajak untuk melihat sesuatu lebih jauh seperti mengambil langkah ke belakang, bernafas, kemudian barulah merangkai kembali potongan puzzle satu per satu. Setelah menonton itu, barulah saya berani mengklain diri bahwa aku berfungsi dengan baik sekarang. Karena sudah benar-benar mengerti harus mulai berbenah dari mana.

Ngomong-ngomong, judul filmnya V.C. Andrews. Untuk serinya ada:

  1. V.C. Andrews’ Heaven
  2. Dark Angel
  3. The Gate of Paradise

Menontonnya harus benar-benar berurutan walaupun banyak twist plot dan alur maju-mundur tetapi kalau nontonnya acak akan lebih bingung lagi karena film luar beda dengan FTV Indonesia yang bisa dapat jodoh cuma dengan modal senggolan.

Nilai moralnya adalah…

Kesadaran bisa didapat dari mana saja ketika kita siap untuk melihat sesuatu lebih jauh dan cukup berbesar hati untuk menginternalisasi alias berhenti menyangkal.

Delia Naurah – 21 Mei 2020

Penulis: rhakakatresna

your personal you can be~ live in Bandung, INDONESIA

2 tanggapan untuk “Menyadari Diri Sendiri, Hubungan, dan Orang Tua Melalui Film”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s