Simbol Diabolika dalam Budaya Malu

Ini adalah refleksi berdasarkan Psikoanalisis Jungian.

Kalau berdasarkan psikoanalisis akar kekerasan itu ada di keyakinan yang menimbulkan rasa malu. Shame issue di keluarga, Shame culture.

Nilainya adalah pride terancam = mati. So that’s okay if you dead. You help our family honor… Jadi inget film yang petak umpet itu loh.

Sehingga si keluarga merasa punya hak istimewa untuk lakukan kekerasan. Tidak mampu menerima realitas, penyangkalan yang sudah mengakar. Kalau bahasa analisisnya disebut diabolika.

Pengalaman Sebelumnya

Saya pernah menganalisis simbol diabolika untuk peristiwa kekerasan yang saya alami pada tahun 2016. Peristiwanya waktu itu adalah teman saya rela “membunuh” saya demi mempertahankan “Harga diri-“nya. Dia merasa malu karena punya teman seperti aku sehingga ia merasa berhak untuk menghabisi aku. Tidak hanya dia, kelompok komunitas ras dia pun melakukan hal yang sama berupa pengucilan.

Mengapa disebut Diabolika?

Mengambil inspirasi dari kisah Umineko No Naku Koro Ni, seseorang menjalin janji dengan iblis dan mengadopsi nilai tertentu. Sehingga seseorang akan melakukan segala hal untuk memenuhi janjinya dengan Iblis. Istilahnya adalah Devils Proof. Perjanjian dengan Iblis demi tercapainya suatu tujuan.

Seseorang yang mengikat janji dengan iblis, mewujudkan nilai-nilai yang terbentuk dari iblis tersebut. Sehingga manifestasi dari nilai itu bisa tampak dari atribut dan perilaku yang tampak.

Pembentukan perjanjian dengan Iblis yang saya maksud bukan dalam artian seorang manusia berjumpa dengan iblis. Melainkan seseorang menciptakan keyakinan-keyakinan untuk dirinya sendiri. Keyakinan tersebut menjadi diabolika jika bertujuan untuk melayani sumber yang mewujudkan harga diri. Tampak jelas kalau yang diikuti adalah imbalannya. Bukan pada kehidupan secara penuh.

Keyakinan demikian yang membuat seseorang merasa berhak untuk melakukan kekerasan. Mewujudkan sebuah neraka, dengan terealisasikan nya diabolika.

Saya jadi sadar bahwa manusia membuat neraka nya sendiri. Manifestasinya adalah dengan perasaan malu, dan keyakinan seseorang membuat seseorang gagal memproses perasaan itu. Pola ini menjadi budaya yang artinya sudah bertahan untuk waktu yang lama.

Budaya ini mewujudkan permainan yang membuat seseorang yang kalah untuk mati. Seseorang yang sadar mengenai pola ini dan berusaha untuk mengubahnya akan melakukan suatu tindakan: berhenti bermain dalam budaya tersebut.

Makna Memahami Diabolika

Dalam hidupnya, seseorang menjalani proses individuasi. Godaan iblis dan godaan Tuhan hadir setiap harinya. Yang ditawarkan adalah imbalan dan proses ini berada di dalam jiwa manusia. Saya menyaksikan ini sebagai perjalanan diri untuk otentik dan menemukan higher self dirinya.

Diabolika muncul dan hadir akibat lingkungan dan budaya. Pilihan seseorang adalah untuk mengikutinya atau berubah dan melihat kenyataannya.

Satu hal yang terasa bagi pengalaman ku adalah diabolika membuat diri mengambang dan tidak melihat kenyataan.

Satu pemikiran pada “Simbol Diabolika dalam Budaya Malu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s