Mengalamatkan Gejala Cemas dan Mengatasinya Lebih Baik

Kesadaran ini dimulai setelah saya menemukan tilikan “kecemasan dan depresi adalah hadiah dari pola asuh orang tua.” Penerimaan tersebut mengarahkan aku untuk lebih sadar soal gejala kecemasan yang ku alami sendiri. Salah satu gejala perilaku yang jelas tampak adalah meringkuk dan tidak bisa mengerjakan apapun selama serangan kecemasan berlangsung.

Aku buatkan daftar gejala yang aku alami:

  1. Kepala sakit
  2. Sulit konsentrasi
  3. Terjadi pemikiran skenario terburuk atau catastrophizing
  4. Nafas pendek
  5. Perasaan harga diri yang renfah
  6. Munculnya waham pecinta

Salah satu fitur yang jelas nampak adalah waham. Itu disadari setelah serangan kecemasan reda. Aku tanya diriku sendiri “kok bisa mabuk cinta lagi?” Kemudian aku sadar kalau keyakinan soal pecinta itu salah dan mengevaluasinya bahwa aku tidak dalam sebuah hubungan atau ikatan sehingga aku boleh untuk berkenalan dan mendekati orang.

Kebingungan dan ketakutan itu bikin aku gak bisa konsentrasi dan akhirnya aku meringkuk di kamar. Aku tak melakukan apa-apa. Kondisi ini sebenarnya bisa mengarahkan aku pada seks impulsif tetapi syukurnya aku pernah melalui ini sehingga mencari pengalihan lain. Pengalihan ku pada awalnya adalah menggunakan aplikasi kencan dan mencari calon pasangan seksual secara putus asa. Aku coba gantikan impuls ini dengan bermain game dan itu berhasil.

Bermain game selama beberapa jam akhirnya menarik aku pada kesadaran. Karena meringkuk, aku jadi lupa mandi dan sulit buat kerjakan tugas. Setelah main game, aku jadi sadar soal diriku sendiri dan akhirnya bisa merawat diri sendiri. Aku olahraga dan mandi setelahnya. Aku merasakan segar setelahnya.

Pengalihan dengan olahraga berhasil bantu aku untuk menemukan ketakutan terdalam aku yang bikin aku mengikuti waham. Ketakutan itu adalah bahwa aku takut kehilangan Satriya dan karenanya aku memiliki perasaan harga diri yang rendah. Pemikirannya adalah seputar aku bukan pecinta yang kompeten. Sehingga itu sangat merusak citra diri aku. Ketakutan ini mengalir keluar dan aku jadi paham soal waham dan ketakutan itu. Emosi semakin terpendam dalam, butuh usaha keras untuk mengeluarkannya. Kecemasan ternyata jadi suatu pertanda dan upaya untuk pengaliran emosi yang terpendam. Emosi terpendam itu kemudian membentuk keyakinan yang salah, atau waham.

Kamu bisa lihat kalau aku kemarin posting soal twinflame. Konsepnya memang indah namun bukan untuk diterapkan secara buta kepada realita. Itu sebagai sebuah cara aku untuk memaknai persepsi aku yang mungkin bisa keliru jika aku meyakini itu sebagai realita. Karena aku tidak dapat mencerap ranah spiritual dan keyakinan soal itu tidak dapat dipegang secara utuh. Namun memang konsepnya hadir. Ini mengingatkan aku bahwa seseorang perlu untuk hati-hati soal konsep-konsep spiritual dan bijak dalam menanggapinya.

Satu pemikiran pada “Mengalamatkan Gejala Cemas dan Mengatasinya Lebih Baik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s