Merawat diri sendiri: pengasuhan ulang, anak batin, dan penanganan kecemasan

Aku cerita pada ibu aku kalau aku mengalami masalah kecemasan. Ibu aku jawab kalau ibu juga mengalami kecemasan dan aku harus turuti keinginan dia. Aku pikir aku gak bisa dan aku bilang kebutuhan aku: berhenti untuk tekan aku soal skripsi dan tolong hargai aku ketika aku sedang mengalami serangan cemas. Serangan cemas bisa bikin aku meringkuk di kamar seharian memikirkan hal yang buruk dan tak bisa berpikir jernih. Kemudian ibu bilang membandingkan aku dengan orang-orang sebaya aku: yang sudah lulus, yang sudah menikah, dan sebagainya. Aku ingatkan ibu kalau aku sudah pulih dari skizofrenia dan dulu aku berjuang sangat keras sekali untuk bisa kembali produktif seperti sekarang ini. Kemudian di akhir ibu bilang, “mau salahkan ibu lagi?”

Dari percakapan itu, aku sudah sampaikan dengan jelas kebutuhan aku kepada ibu. Meskipun respon nya buat aku sangat beracun. Aku jadi sadar kalau selama ini emosi aku dan kecemasan aku gak dihargai oleh ibu aku sendiri. Ini buat aku bikin gak nyaman sekali. Aku ingatkan pada diriku lagi kalau kebutuhan aku cuma untuk sampaikan kebutuhan aku tetapi emang menghadapi respon nya selalu saja menyebalkan. Aku berakhir dengan mempelajari pola bicara ibu dan sudah siapkan jawaban untuk atasi itu: halau, tangkis, serang balik.

Menghadapi ibu yang seperti itu, terlepas jasanya untuk mempertahankan kehidupan anak-anaknya, memang butuh kerja keras yang berdarah-darah untuk atasi trauma dari pola asuh nya. Kekerasan terjadi, aku sudah temukan penyebabnya dan bagaimana itu terjadi: urusan perkembangan yang belum beres, keinginan dan ambisi yang diproyeksikan kepada anak, kurangnya keterampilan untuk empati pada anak, serta kesulitan untuk mengalirkan emosi. Dampak dari pola asuh itu mempengaruhi fungsi kehidupan aku sehari-hari dan bagaimana aku berinteraksi dengan orang. Hampir seluruh aspek kehidupan terpengaruh dan aku berjuang seperti tak ada habisnya.

Yang saya lakukan untuk merawat dan menyayangi diri sendiri

Kejadian konflik antara saya dengan Satriya pada tahun 2016 lalu membuat saya sadar kalau ada sesuatu yang gak beres dari diri dan keluarga saya sendiri. Konflik besar terjadi, aku berpisah dengan gak baik dengan Satriya. Aku kembali ke rumah orang tua ku untuk menyesal dan menyalahkan diri sendiri. Kemudian dengan waham “cinta pada Satriya,” aku berakhir bukan menemukan Satriya melainkan diriku sendiri.

Aku begitu menyayangi Satriya sampai lupa diriku sendiri. Ketika dia tak ada, aku menemukan kembali diriku sendiri dan tersadarkan betapa tak terawat dan terlukanya diri aku. Banyak sekali luka dan trauma yang aku miliki. Mereka dibiarkan, tak didengar, dan dipendam dalam-dalam. Ini juga yang jadi motivasi kenapa aku ingin sekali berganti identitas menjadi Kaladian Raharja yang ternyata merupakan representasi dari bayang-bayang diriku: semua hal yang ku pendam dalam-dalam ke bawah sadar. Proses yang sudah aku lalui membawa aku untuk menerima bayang-bayang dan memahami kalau aku punya banyak identitas dan bisa menggunakan nya dengan baik.

Kolaborasi bayang-bayang dengan anima membuat aku kewalahan juga dengan kata-katanya “matilah kau!”. Ingatan dan manipulasi emosional ibu dulu juga mengarah pada pikiran itu dan itu sangat mengganggu sekali buat aku karena itu mengarahkan aku pada pikiran dan rencana bunuh diri. Kuat sekali dorongan itu sehingga perlu dibantu dengan aku bikin karya Kesadaran Wanita Alpha: Vulkano Vulva.

Yang mau saya bahas lebih banyak lagi adalah mengenai pengasuhan ulang, merawat anak batin, dan penanganan kecemasan.

Pengasuhan Ulang

Pola asuh orang tua yang patologis atau bikin sakit jiwa anak-anaknya itu berdampak pada konsep diri dan keluarga anaknya. Yang terjadi pada ku adalah aku merasa kalau aku hidup di neraka dan aku sadar kalau keluarga aku itu gak baik-baik aja. Ini muncul sejak aku SD dan aku gak mengerti gimana caranya untuk bisa keluar dari situasi ini.

Aku menghabiskan hari-hari dengan dimarahi dan dipukuli oleh orang tua, kemudian di sekolah pun tak habis dirundung oleh anak-anak sekolah dan bahkan guru. Ketika aku kembali ke sekolah dengan keadaan sembab, ibu aku menyiksa aku lagi dan paksa aku untuk berhenti menangis. Peristiwa itu bikin aku belajar untuk enggak hargai emosi sendiri. Ditambah ketika aku bicara aku selalu dipaksa diam atau disuruh berubah gaya bicara. Itu bikin aku malas sekali untuk bicara pada orang tua. Itu menunjukan bahwa selain emosi, pendapat aku pun gak dihargai sama sekali. Pola itu tertanam di diri aku sehingga aku jadi kesulitan untuk bicara sama orang dan mendengarkan orang lain. Rasanya ingin selalu bicara dan gak izinkan orang lain buat bicara. Aku sadar kalau pola ini bikin aku dibenci sama orang. Karena emosi dan pendapat sendiri gak dihargai akhirnya aku terus mendamba perhatian terus-menerus dari orang lain bagai ada lubang sebesar Tuhan di jiwa aku.

Ketika aku lihat bagaimana teman-teman sebaya aku bisa berkomunikasi dengan sehat dengan orang tuanya, aku bergeming dibuatnya. Aku gak dapatkan itu dan cemburu pada orang itu. Aku pikir “betapa beruntungnya anak itu punya orang tua yang dewasa untuk asuh mereka.” Ini benar-benar membuat aku sadar kalau konsep keluarga, ayah, ibu, dan anak batin aku sudah gak sesuai dan selalu arahkan aku pada perilaku melukai diri sendiri.

Pengasuhan ulang yang aku lakukan adalah mengubah perlakuan aku pada diri aku sendiri. Aku arahkan pikiran aku untuk berhenti memikirkan sesuatu yang buruk soal orang tua dan ubah diri aku jadi orang tua diriku sendiri. Ketika orang tua asli dirasa gagal untuk mengasuh diri, aku sadar kalau dirilah yang bisa lakukan itu. Emosi mengalir deras, aku menangis, marah, gembira, takut. Aku jadi bisa jelas ekspresikan emosi aku dan bisa bicara pada orang tua baru aku: diri aku sendiri. Kadang-kadang saya buat relasi orang tua lain dengan orang yang lebih tua dan bisa gantikan peran orang tua sementara selama aku membutuhkan.

Ini bantu aku untuk pulihkan dan perbaiki konsep diri dan keluarga aku. Terutama dalam menuntun aku untuk mencintai dan rawat diri sendiri.

Merawat Anak Batin

Siapa yang dirawat ketika aku lakukan pengasuhan ulang? Jawabannya adalah anak batin.

Pola asuh orang tua yang gak sesuai bikin anak batin terluka. Ketika aku pertama sadari anak batin aku pada 2016 lalu, dia sangat terluka sekali. Aku gambarkan: dia telanjang, badannya dipenuhi borok-borok, ada luka-luka sayat, ada bagian yang bau sekali, dan dia menangis kesakitan. Aku mulai sadar soal anak batin ini lewat mimpi. Kemudian aku cari tahu makna dari anak dalam mimpi dan ku temukan lah bahwa itu adalah anak batin.

Pengasuh ibu yang salah menciptakan arketipe “ibu lain” pada diri sendiri. Dia lah yang bikin anak batin aku terluka dan gak terawat. Dalam pengalaman aku, anak batin ini jadi ada dua: anak batin yang biasa dan anak batin yang rusak. Dalam suatu kesempatan, aku berikan anak batin yang rusak kepada ibu lain. Kemudian anak batin yang biasa hadir kembali dan berinteraksi dengan aku. Peran aku terhadap anak batin setelah peristiwa itu adalah sebagai ibu. Begitulah pengasuhan ulang pada diri aku bermula. Aku menjadi ayah sekaligus ibu buat anak batin ku sendiri. Aku rawat diriku lebih baik dari siapapun.

Penyembuhan anak batin bisa dipercepat dengan memicu peristiwa. Ketika muncul sebuah masalah, dulu aku suka kabur karena merasa gak sanggup menghadapinya. Sekarang, aku hadapi dan sadari perasaan dan anak batin aku. Perasaan dan respon bisa jadi disebabkan oleh anak batin. Aku melatih kesadaran aku untuk ketahui apakah respon dan emosi yang ku lalui adalah alami atau reaksi dari anak batin. Biasanya jika anak batin yang bereaksi dan jadi protektif, aku berhenti, ingat hati nurani, kemudian memproses emosi dan pikiran diri sendiri. Dari situ bisa paham dan menemukan pola-pola kaku yang tertanam dalam diri dan memperbaikinya.

Penanganan Kecemasan

Serangan kecemasan muncul akibat pemicu. Ketika serangan muncul, bentuk lah tempat yang aman. Kalau dirasa sulit untuk kembali menapak pada situasi di sini dan saat ini maka cari pengalihan untuk itu. Misalkan bermain game, membaca, atau menulis. Perhatikan jika pola putus asa muncul dan mengarahkan diri pada perilaku yang beresiko seperti mencari pasangan seksual, atau obat-obatan. Ketika pola putus asa muncul dan disadari, hentikan perilaku segera dan alihkan dengan sadar pada perilaku yang aman. Butuh waktu beberapa jam buat diriku untuk kembali menapak dan bisa berpikir jernih. Ini mungkin bisa terjadi selama seharian.

Yang dilakukan pertama setelah serangan kecemasan berakhir adalah rawat diri sendiri: mandi, makan, dan catat pemicu dan konten pikiran selama kecemasan untuk diproses di waktu refleksi atau waktu hening.

Semoga kamu dapat pemahaman baru soal merawat diri sendiri. Kalau kamu mau pembahasan yang lebih lanjut soal tema tertentu, kamu bisa tuliskan usulan kamu di komentar atau kirim surel ke kaladianraharja@gmail.com

5 respons untuk ‘Merawat diri sendiri: pengasuhan ulang, anak batin, dan penanganan kecemasan

  1. Selamat ya! Kamu sudah di jalur yang benar. Menyadari bahwa diri ini butuh bantuan, kemudian melakukan hal2 untuk menolong diri sendiri mengatasi ini, adalah sebuah hal yang hebat.
    Aku sendiri masih berjuang untuk selalu mendengarkan diri sendiri. Bagaimana perasaanku saat ini, mengakuinya, menghiburnya. Sulit sekali awalnya untuk memulai ngobrol dengan diri sendiri, tapi dalam perjalanannya ternyata aku bisa.
    Kita harus terus semangat, cuma kita yang bisa menolong diri kita sendiri. Salam kenal ya 😉

    Suka

  2. Terima kasih sudah menulis panjang tentang yang kamu alami, luka kamu dan hal-hal yang kamu lakukan untuk merawat diri kamu. Saya yakin menulis dan mengakui pengalaman ini adalah cara untuk cara berdamai dengan luka itu semua.
    Salam,
    Semoga terus kuat…. Amin

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s