Ketika sesuatu berubah jadi pelangi

Ini adalah tulisan refleksi.

Pagi hari ini aku disambut oleh postingan teman-teman dari komunitas soal produk Unilever yang ramai-ramai mendapatkan komentar ujaran kebencian dan boikot produk dari warganet Indonesia. Saya lihat orang-orang berargumen, ada yang pro dan ada yang kontra.

Baca postingan di atas bikin aku merenung dan ingat kembali peristiwa ketika aku belajar di Sekolah Damai Indonesia bahwa salah satu pola kekerasan di wilayah Indonesia adalah menggunakan agama dan politik sebagai penegasan untuk diri atau kelompok melakukan kekerasan. Dari pola yang tertanam itu, orang jadi merasa berhak untuk menyakiti orang lain. Kekerasan digunakan sebagai jalan pintas, ditegaskan dengan pembenaran menurut agama dan politik mereka.

Diskriminasi dan stigma terhadap keberagaman gender dan seksualitas adalah salah satunya. Dalam hal agama sebenarnya mulai ada gerakan tafsir progresif yang lebih inklusif terhadap keberagaman gender dan seksualitas, ini merupakan hal yang menarik untuk dipelajari. Bagi orang-orang yang menerapkan budaya bahwa itu adalah salah satu yang salah, mereka akan lakukan diskriminasi, stigma dan kekerasan.

Teman ku bagikan tautan video terkait ini.

Dengan menyadari pola ini, aku jadi sadar untuk berhenti dan lakukan jalan tanpa kekerasan.

Bulan Juni, Bulan Bangga LGBTIQ

Pada bulan Mei sebelumnya itu ada hari hadapi homofobia, transfobia, dan bifobia (IDAHOBIT/International Day Against Homophobia, Biphobia, and Transphobia). Perayaan dan peringatannya dilaksanakan sepanjang bulan Mei. Kemudian pada bulan ini, bulan bangga (Pride) diadakan di seluruh dunia.

Sejarah singkat dan bendera LGBTIQ bisa kamu baca di tautan di bawah

https://tirto.id/sejarah-bendera-pelangi-khas-lgbt-pengganti-simbol-bikinan-nazi-ecqk

Gerakan bulan bangga ini memiliki sejarah hingga akhirnya dirayakan di seluruh dunia. Bagaimana dengan di Indonesia? Saya bagikan artikel yang lengkap mengenai sejarah gerakan LGBT di Indonesia.

https://magdalene.co/story/sejarah-gerakan-dan-perjuangan-hak-hak-lgbt-di-indonesia

Teman-teman dan aktifis pun merayakan bulan bangga ini. Bagi saya sendiri, perayaan ini adalah sebagai pengingat bahwa menyadari dan memiliki identitas orientasi seksual atau gender tertentu adalah boleh dan bisa dilakukan. Mengingat Indonesia sendiri adalah negara yang berbeda-beda tetapi satu jua. Perjuangan panjang untuk bisa benar-benar menjadi negara yang inklusif terhadap minoritas.

Kabar dan Pekerjaan Rumah (PR) Pemberdayaan di Bandung dan Garut

Saya ikut dan terlibat beberapa organisasi terkait keberagaman identitas gender dan seksualitas, keluarga berencana, dan perdamaian di Kota Bandung. Keterlibatan ini bikin saya kenal bahwa orang itu benar-benar unik dan macam-macam bentuk dan rupanya. Ini pun jadi bikin saya belajar untuk dialog, mengenali, memahami, dan bahkan bantu mereka.

Saya mulai dari Bandung

Di Bandung, serba-serbi peristiwa terjadi. Sempat heboh soal kasus Ferdian Paleka yang memberikan prank kepada waria di Bandung. Ia ditangkap, dipenjara, dan tiba-tiba ada kabar bahwa penggugatnya mencabut tuntutan sehingga Ferdian dibebaskan. Berikutnya berita muncul soal Ferdian yang disambut oleh Bupati Kabupaten Bandung. Teman-teman saya di komunitas bilang kalau ini jadi pertanda kurangnya literasi bahkan di tingkat Bupati. Saya kemudian tandai ini bahwa ada ihwal pendidikan yang jadi PR pemberdayaan di Bandung.

Kalau kamu ikuti Instagram aku, kamu akan temukan postingan aku ikut pembagian sembako untuk teman-teman Orang Dengan HIV (ODHIV) di Kota Bandung. Aku di situ berkenalan dengan teman-teman dan keluarga ODHIV di Bandung. Ternyata memang macam-macam juga orangnya dan bahkan ada yang sudah bekerja juga punya hidup mapan. Sayangnya diberitakan dalam media kalau ODHIV itu banyak di kalangan LGBT, namun ternyata itu melingkupi semua orang. Media gunakan itu buat pupuk kebencian terhadap teman LGBT apalagi jika ia juga memiliki HIV.

Di komunitas pemberdayaan laki-laki Gay, Biseksual, Queer (GBQ) yang aku ikuti, berbagai permasalahan baru mencuat ketika pandemi COVID-19 melanda. Beberapa cerita bahwa teman-teman yang aktif secara seksual perlu mengadaptasi kebiasaan baru, meningkatnya perilaku seksual karena di karantina, keamanan diri, dan diskriminasi. Ini PR yang banyak juga buat pemberdayaan.

Yang asyik berikutnya adalah dibuatnya platform grup WhatsApp untuk diskusi mengenai Gender dan Seksualitas yang diadakan oleh teman-teman Sekolah Selangkangan. Pada bulan ini, diskusi yang diadakan sangat beragam. Bahkan saya baru tahu ternyata ada teman transgender yang menjadi anggota dewan, kemudian pendekatan agama mengenai LGBTIQ dan masih banyak lagi. Aku makasih banget buat kak Arfi yang sudah inisiasi gerakan ini.

Program-program diskusi Sekolah Selangkangan

Kabar dari Garut

Dapat cerita dari mantan murid ku di sekolah (aku sudah setahun lebih lamanya berhenti mengajar) kalau dia temukan banyak sekali teman sekolah dia yang menemukan identitas gender dan orientasi seksualnya dan lalu ia menutupi identitas itu (berada dalam kloset). Ia bilang kalau pendidikan seks di sekolah gak bagus sehingga banyak teman yang terlibat perilaku seks yang gak aman tanpa kondom. Perilaku yang jadi corak pada remaja Garut adalah bertukar pasangan baik antara laki-laki dan perempuan. Fenomena ini tampak menjadi rahasia umum dan dibiarkan untuk waktu yang lama. Mungkin karena beda suasananya dengan di Bandung. Di Garut, lingkungan sosialnya cenderung menekan dan menutupi sehingga yang tampaknya seperti tidak ada masalah. Padahal itu adalah ujung dari gunung es.

Remaja tersebut rencananya akan buat gerakan sosial untuk bantu remaja LGBTIQ lainnya. Supaya mereka dapat akses pendidikan seks yang lengkap dan dibantu dalam eksplorasi dan penerimaan dirinya. Saya berharap anak ini bisa mewujudkan itu. Ini penting karena belum ada komunitas remaja yang inklusif terhadap remaja dengan identitas gender atau orientasi seksual minoritas. Mereka cenderung menekan dan melabeli itu sebagai penyakit. Sejauh ini saya baru temukan satu komunitas remaja yang inklusif, aku pikir ini istimewa.

Kalau pemuda, ada gerakan bagus yang fokus di Gay, Waria, dan Lelaki Seks Lelaki. Kelompok ini satu-satunya di Garut dan bagus dalam pemberdayaan. Selain itu, ada teman pengelola kafe yang buka ruang diskusi publik.

PR pemberdayaan di Garut pun tak kalah banyaknya. Teman-teman GWL di sini, karena orang kampung, enggan untuk akses pemeriksaan VCT yang diberikan gratis oleh Pemerintah. Dampaknya, HIV ini diketahui setelah orangnya masuk ke fase AIDS, yang mana keselamatan hidupnya sangat kecil sekali. Kemudian tingkat kesadaran lemah dan pendidikan seks yang buruk bikin remaja dan pemuda rentan terhadap IMS. Akses dipersulit karena ada pihak yang represif.

Bulan Bangga di Tahun 2020

Bulan bangga tahun ini bermakna buat aku. Aku yang akhirnya mengalami kebangkitan seksual di usia 24 kemudian mulai bisa mengenali dan menerima diri dalam segi seksualnya. Kemudian kekerasan terkait gender dan Seksualitas yang saya alami, tampaknya teringat kembali untuk dijadikan peringatan buat diriku bahwa perubahan perlu dilakukan pada diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.

Ini merupakan pengingat untuk perubahan.

Satu respons untuk “Ketika sesuatu berubah jadi pelangi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s