Alien itu bernama Emosi

Kabarku cukup baik hari ini setelah berhasil mengurai trauma kemarin. Aku mulai memaknai kembali hidup aku dan menjalani hidup seperti biasanya.

Aku masih alami ketakutan soal kesehatan aku, kemudian aku sadar bahwa kesehatan aku adalah tanggung jawab aku. Jadi aku perlu rawat diriku sendiri. Aku bilang pada diriku kalau aku bisa meningkatkan kualitas kesehatan dan fisik aku. Aku perlu berani hadapi konsekuensi atas hal yang pernah aku lakukan.

Soal trauma, aku baru aja Nemu kalau tujuan aku untuk kunjungi Satriya tengah malam adalah menyelesaikan perkara hutang-piutang dan mau bantu finansial dia tapi karena ada orang yang gak suka sama aku, berprasangka dan berstigma terhadap aku maka aku mendapatkan tindak kekerasan berupa peneriakan dan pengusiran. Aku tidak bisa balik marah dan hadapi itu dengan tenang. Namun aku jadi katatonia setibanya di rumah sampai tiga hari berikutnya. Ternyata begitu sejarahnya.

Salah satu proses yang aku hadapi untuk sampai akhirnya tiba mengurai trauma adalah berperasaan. Emosi buat keluarga aku adalah alien. Orang tua aku ajarkan aku untuk selalu gembira, tidak boleh sedih menangis, marah, menunjukan jijik, dan bahkan mesti takut dan tunduk pada perintah mereka. Pengalaman pola asuh yang brutal ini ternyata sangat merusak aku dan berkontribusi dengan sangat bagus untuk membuat aku mengalami sakit jiwa psikosis.

Dengan orang tua yang tidak paham dan ngerti, gak bisa menghargai perasaan dirinya dan anak-anaknya bikin aku buta juga terhadap emosi dan gak tahu gimana caranya untuk mengatasinya. Masalah ini diabaikan dan orang tua aku menyalahkan aku karena tidak bisa kelola emosi. Namun sesungguhnya mereka sendiri buta soal itu dan tidak bisa atasi emosinya sendiri dengan bagus.

Emosi bagi keluarga aku adalah alien. Begitulah aku sebut ketika gambarkan situasi emosi dan kecemasan yang aku alami kepada ibu aku. Ibu aku menyangkal dan bercerita membandingkan dengan anak yang lain. Aku jawab kalau ibu sudah julid sekali tidak mau menerima anaknya sendiri: gangguan jiwa dan proses mati-matian yang aku alami untuk menyembuhkan diri sendiri.

Karena kelemahan ini, saya kadang menghadapi orang tua sebagai orang tua. Untuk bagikan dan ajarkan soal emosi. Aku tunjukkan maksudnya dan bagaimana mengatasi dan menanggapi emosi. Kadang ku tepuk dahi ku sendiri, kemudian geleng kepala. Aku sudah tahu semuanya dari kesulitan kedua orang tua ku sendiri dan aku berakhir mengasuh orang tua ku sendiri soal emosi mereka. Kadang-kadang aku suka pikir anak lain yang beruntung punya orang tua yang dewasa secara psikologis. Mereka berhasil dalam hidup dan mendapatkan kebutuhan emosional yang dibutuhkan. Sementara aku sendiri mengorangtuai orang tua sekaligus diriku sendiri. Senantiasa ngupahan anak batin aku yang rentan dan cengeng.

Inilah yang saya terima pada refleksi hari ini.

Anak batin yang terluka dalam, disembuhkan traumanya. Penderitaan dalam hidup rasanya maksimal sekali hanya dengan menghadapi pola asuh yang brutal dalam emosional. Orang bilang aku lemah, atau mungkin itu cerminan diri mereka. Aku pegang tangan anak batin aku kemudian memeluknya. Kamu (anak batin) aman dan bersamaku.

Ilustrasi oleh Gempar Saputra

Satu respons untuk “Alien itu bernama Emosi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s