Perubahan Kumulatif dalam Menciptakan Budaya Damai untuk Diri Sendiri

Ketika mitra ku berkata bahwa dia pusing, tiba-tiba aku jawab kalau itu sekedar pikirannya dia. Dari dalam aku merasa harus untuk kontrol pikiran dan perasaan dia. Sehingga aku manipulasi emosi dia yang setelahnya ku sadari kalau aku telah lakukan kekerasan pada dirinya.

Aku berhenti, kemudian sadari diri sendiri. Apa benar soal apa yang sudah ku lakukan dan bagaimana ini bisa terasa benar buat aku? Jawaban untuk itu adalah “Tidak” dan bagaimana bisa adalah karena adanya perasaan hak istimewa (privilege) yang buat aku menggunakan kuasa untuk mengontrol mitra aku. Pertanyaan berikutnya adalah “dari mana asalnya perilaku ini?” Jawabannya adalah pola kaku yang tertanam diriku. Kemudian saya lanjutkan pertanyaan “dari mana asalnya pola kaku tersebut?” Jawabannya adalah trauma yang berasal dari perlakuan ibu pada aku.

Menciptakan Budaya Damai Dimulai dari Diri Sendiri

Cerita sebelumnya merupakan salah satu proses yang aku lalui ketika coba terapkan budaya damai dalam kehidupan sehari-hari. Pelatihan menciptakan budaya damai telah saya ikuti pada Januari lalu kemudian dilanjutkan lagi dengan pelatihan transformasi diri daring yang baru saja selesai pada akhir pekan lalu. Menciptakan budaya damai terdiri dari dua bagian yaitu transformasi diri dan transformasi sosial. Saya sadar bahwa untuk menciptakan budaya damai maka perlu untuk lakukan transformasi pada diri sendiri. Itu supaya diri kita bisa lebih terbuka pada kekuatan perubahan hidup.

Hal-hal penting bagi saya dalam proses transformasi diri sendiri adalah mengalirkan emosi, menjadi pendengar dan pendamping yang baik, menyembuhkan trauma, serta membangun empati. Di salah satu pertemuan pelatihan Menciptakan Budaya Damai daring, kami berkesimpulan bahwa menerapkan budaya damai dalam kehidupan sehari-hari menciptakan kehidupan yang lebih waras dan selaras. Ini bantu orang untuk bisa lebih sehat secara mental dengan memegang hati nurani, mengalirkan emosi, memproses trauma, berempati, dan memberdayakan diri dan orang sekitar.

Proses Transformasi yang Berkelanjutan

Proses transformasi diri saya lanjutkan setelah pelatihan dalam rangka pengembangan diri. Saya sadari ternyata saya lakukan kekerasan dalam kehidupan sehari-hari saya. Bagi saya, ini adalah proses latihan yang berkelanjutan. Keterampilan menciptakan budaya damai ini bisa dipelajari efektif ketika diri mau terbuka terhadap perubahan dan terlibat di dalamnya. Awalnya sulit memang, karena dirasa harus untuk akui emosi dan kesalahan yang dilakukan setiap harinya. Namun, bergembiralah ketika lakukan kesalahan karena itu pertanda awal untuk perubahan lebih baik. Yang bikin diri terhambat untuk berubah adalah tidak terbukanya diri sehingga orang jadi tak mau akui kesalahan dirinya.

Tampaknya yang paling sulit buat aku adalah mengatasi trauma. Trauma baru bisa disadari setelah pola kaku ditemukan. Untuk temukan pola kaku maka kita perlu berhenti dan ingat kembali. Tanyakan pada diri apa yang dilakukan benar dan bagaimana itu terjadi. Lalu jawablah jujur oleh diri sendiri. Kejujuran pada diri sendiri dilatih supaya perasaan aman dan kepercayaan diri mulai bisa dirasakan. Trauma mulai disembuhkan ketika emosi dan pikiran masa lalu akhirnya diproses oleh diri sendiri. Proses penyembuhan trauma ini bantu diri untuk evaluasi diri sendiri dan akhirnya mengubah pola perilaku yang baru.

Praktik ini saya lakukan dalam keseharian saya. Saya temu banyak sekali perintilan soal diri yang akhirnya bisa diproses. Ada perasaan kurang nyaman dalam prosesnya karena diri perlu lepas dari pola kaku yang bikin diri aman. Maksudnya, saya keluar dari zona nyaman dan lihat diri sendiri dengan sesungguhnya.

Satu respons untuk “Perubahan Kumulatif dalam Menciptakan Budaya Damai untuk Diri Sendiri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s