Refleksi Akhir Somatic Practice Re-membering and Gathering

Pertemuan Somatic Re-membering Practice and Gathering secara resmi diakhiri melalui pengumuman Facebook oleh Alexia Buono pada 19 Juni 2020. Pada waktu itu saya sedang menunggu pertemuan berikutnya. Kemudian saya dapat pemberitahuan Facebook dari Alexia yang isinya bisa dilihat di gambar di atas. Saya tuliskan dalam keterangan gambarnya bahwa saya akan melanjutkan proyek pembangunan perdamaian melalui tari lebih lanjut. Namun sebelum itu, sebaiknya saya tuliskan refleksi dan evaluasi saya selama mengikuti kegiatan Somatic Re-membering Practice and Gathering.

Panggilan Tak Disangka

Pada 24 Maret 2020, saya dapat surel dari bu Nadine bahwa pertemuan pertama Somatic Re-membering and Gathering akan diadakan dalam 3 jam lagi. Aku yang waktu itu baru selesai kelas filsafat daring, langsung saja bersiap untuk ikut pertemuannya. Pertemuan ini ingatkan saya pada pesan Bang Iqbal pada tahun 2016 lalu dan juga pada keinginan saya untuk belajar ketubuhan lebih lanjut.

Menghubungkan Tubuh dan Pikiran

Berikutnya saya langsung bahas pada bagian utama dari refleksi: proses yang saya alami ketika menghubungkan tubuh dan pikiran. Saya mencatat hal penting setelah mengikuti pertemuan dan pesan yang seringkali muncul adalah menghubungkan kembali tubuh dan pikiran. Ini adalah mengenai cara saya berinteraksi dengan tubuh dan pikiran saya. Saya belajar untuk memahami sinyal-sinyal tubuh dan pikiran sehingga saya dapat memperlakukan diri lebih baik. Saya butuh waktu sekitar 3 bulan lamanya untuk mengenali sinyal-sinyal tersebut. Beberapa di antaranya adalah: sinyal untuk makan, tidur, toilet, dan berpindah tempat.

Saya melalui proses pembelajaran ulang dalam hal interaksi antara tubuh dan pikiran. Awalnya saya pikir bahwa tubuh mesti dikondisikan untuk mencapai target yang ditentukan oleh pikiran. Namun ternyata itu adalah hal yang tidak tepat. Tubuh ku berontak, aku jatuh sakit, dan aku jadi kebingungan soal apa yang perlu aku lakukan dalam menjalani kehidupan. Praktik Somatik yang dilakukan bersama Alexia terasa sederhana dan ajarkan aku untuk mendengarkan tubuh ku sendiri. Kecepatan proses tubuh aku ternyata lebih cepat dari pikiran sementara pikiran menghambat pergerakan di badan. Itu menjadi sebab kenapa rasanya badan aku sering merasa sakit dan tidak nyaman.

Tubuh dan pikiran berjalan bersama-sama. Saya sadar bahwa saya melalui proses perdamaian antara tubuh dan pikiran saya. Gerakan-gerakan yang tanpa berpikir pada akhirnya menunjukan bahwa diri ini berpikir melalui bergerak. Itu adalah proses yang cepat dan sukarela. Saya temukan hal yang utama untuk kembali dan memahami proses pikir dan gerak yang alami.

Mencapai Pengalaman Puncak

Praktik yang terasa sederhana dan instruksi yang mudah telah memfasilitasi diri saya untuk mengalami flow. Proses flow ini yang rasanya melancarkan proses hubungan antara tubuh dan pikiran. Pemahaman dan tilikan muncul sepanjang praktik. Proses ini berlangsung bersamaan dengan perkembangan diri saya. Hingga saya mengalami pengalaman puncak.

Konten yang saya dapatkan dari pengalaman puncak adalah pemahaman yang baru mengenai interaksi tubuh dan pikiran, strategi yang baru dalam menghadapi kecemasan, dan penemuan makna hidup baru bagi diri saya sendiri. Pengalaman ini muncul dan terjadi dengan begitu saja tanpa saya rencanakan. Saya benar-benar tidak mengetahui hal baru apa yang akan muncul sampai pengalaman puncak terjadi. Saya sadar bahwa ini mungkin merupakan bagian dari proses individuasi saya.

Dalam Menghadapi Kecemasan

Manifestasi kecemasan saya temukan dengan jelas dari sinyal tegangnya otot kepala dan tegangan pada otot bagian-bagian tubuh tertentu. Secara alami, respon ini merupakan bentuk keberadaan ancaman dan yang membuat saya kewalahan adalah itu menjadi pola yang menetap di tubuh saya. Pikiran saya menghasilkan konten-konten pertanda ancaman kemudian tubuh bereaksi dengan memberikan sinyal bahaya pada tubuh. Jika gejala ini diabaikan, kesadaran akan memberikan sebuah toleransi sehingga ancaman di pikiran maupun tubuh jadi tidak terasa. Pengabaian ini akan berdampak pada semakin kerasnya sinyal pikiran dan tubuh kepada diri.

Proses intensif saya bersama Alexia membuat saya menjadi sadar betul mengenai kecemasan yang terjadi pada diri saya sendiri. Ini membantu saya untuk mampu menerjemahkan lebih baik sinyal tubuh dan pikiran yang saya rasakan.

Makna Hidup Baru: Keterampilan Menari Saya

Interaksi saya bersama Alexia membuat saya ingat kembali pada tekad saya yang telah lama hilang: menjadi koreografer dan penari. Penemuan kembali tubuh tari saya selama praktik ini memunculkan makna baru dalam hidup saya. Proses penemuan kembali tubuh menari difasilitasi melalui praktik Somatik. Ini mengangkat keinginan dan kebutuhan tubuh yang akhirnya saya terjemahkan sendiri sebagai kebutuhan untuk menari. Tari sebagai ekspresi alamiah benar-benar saya alami selama praktik Somatik bersama Alexia. Ini pada akhirnya telah mengantarkan saya pada keyakinan bahwa apa yang saya rasa adalah benar. Saya ingat kembali pengalaman ketika mengikuti International Peace Training 2020 di Pati, Indonesia. Saya menemukan keyakinan yang jelas mengenai kebutuhan dan hidup saya di Tari, sama seperti ketika saya menemukan keyakinan yang jelas mengenai tujuan hidup aktifisme saya.

Evaluasi dan Langkah Berikutnya

Ada beberapa evaluasi yang saya catat. Itu adalah jadwal pertemuan dan tempat latihan. Jadwal pertemuan adalah pukul 22.00 WIB. Karena keluarga ku sudah tidur pada waktu segitu, biasanya saya melalui pertengkaran dengan ayah saya. Namun setelah saya sesuaikan, itu tidak jadi masalah lagi. Masalah lain muncul karena bertambahnya kesibukan saya sehingga saya kelelahan untuk bergabung di pertemuan-pertemuan terakhir sehingga saya tidak jadi ikutan.

Tempat latihan di kamar saya yang sempit membuat saya melakukan improvisasi dalam melakukan gerakan dan itu terasa menyenangkan. Saya benar-benar mempertimbangkan ruang supaya saya bisa lakukan semua gerakan di ruang yang terbatas. Ini memacu kreatifitas saya.

Setelah pengumuman berakhirnya pertemuan Somatic Practice Re-membering and Gathering, saya mengajukan pada Alexia untuk ikut belajar mengenai Embodied Justice yang sedang ia kembangkan. Ini merupakan proses yang menantang dan menyenangkan buat diri saya sendiri. Saya ucapkan terima kasih banyak kepada Bu Nadine yang telah undang saya, teman-teman Friends Peace Teams yang ikut berlatih bersama, dan Bu Alexia Buono yang telah adakan kegiatan ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s