Refleksi Tentang Pendidikan Ulang (Re-education)

Nilai-nilai yang saya miliki mewujudkan realita pada diri saya. Kekacauan yang saya rasakan ternyata saya buat sendiri. Saya menciptakan situasi buruk buat saya sendiri. Apa yang saya lakukan melukai diri saya sendiri dan itu mengarahkan saya pada menyempitnya pandangan hidup saya. Kecemasan dan depresi ini sudah menghilangkan memori saya sendiri sehingga saya mengalami kesulitan dalam menghafal, terutama gerakan tari yang saya dapatkan di kelas. Bagaimana dengan emosi saya? Ternyata dulu saya tidak mampu mengalirkan emosi marah saya sehingga saya menyimpan rasa benci pada banyak orang dalam hidup saya. Saya menyadari itu dan mulai memprosesnya.

Pikiran saya…

Begitulah yang saya pikirkan selama beberapa hari terakhir.

Kabar baru dari saya: saya sudah menyelesaikan seluruh kelas di 1DAxCLI bulan Juli 2020, selesai memfasilitasi diskusi dengan (Re)aksi Remaja Garut, dan menjadi produser untuk program Radio dan Podcast (Re)aksi Remaja Garut. Tampaknya sangat baik, bukan?

Dari pikiran yang saya tuliskan di awal paragraf tadi saya lakukan refleksi. Saya ternyata memerlukan pendidikan ulang diri saya sendiri untuk mendapatkan nilai-nilai dan pemahaman baru yang sesuai. Itu supaya saya bisa mewujudkan kedamaian dalam diri saya dan mendorong saya untuk dapat lebih berkembang dalam hidup. Saya bersyukur telah melalui dan akhirnya tiba di titik ini.

Apa itu Pendidikan Ulang?

Bagi saya, pendidikan ulang adalah mengulangi pendidikan pada bidang-bidang tertentu untuk memperbarui dan menyesuaikan hasil pendidikan sebelumnya.

Ini penting bagi saya karena saya menilai bahwa beberapa informasi yang tertanam di diri saya tidak sesuai dengan realitanya. Itu termasuk adanya stigma dan kenangan salah yang tertanam di diri saya. Itu muncul akibat peristiwa masa lalu yang saya alami.

Bagaimana cara saya melakukan Pendidikan Ulang?

Keterampilan literasi diperlukan sebagai langkah awal. Kemudian mulai mencari referensi untuk belajar. Pahami, pelajari, refleksi, dan evaluasi. Langkahnya sederhana. Yang saya perhatikan dalam proses ini adalah saya menemukan konteks dari informasi yang terdistorsi atau kurang sesuai. Informasi yang saya dapatkan terkait pada konteks dan dengan memahaminya maka diri akan tahu maksud dari pesannya.

Saya sudah melakukan ini dan melakukannya pada hal-hal yang muncul begitu saja menjadi perhatian. Saya melakukannya tidak dengan serius melainkan melalui aktifitas yang dilakukan sehari-hari. Ini sangat membantu. Di kondisi lain ketika saya duduk dan menyiapkan catatan, saya mengalami sakit kepala yang hebat karena itu terasa penuh tekanan buat saya.

Cara yang terbaik adalah melakukan kegiatan sehari-hari kemudian lakukan refleksi hanya pada waktu tertentu. Tidak usah untuk refleksi setiap saat karena banyak pekerjaan menanti. Refleksi penuh seharian bagus diadakan sembari liburan karena lingkungan dan ketenangan dari liburan akan bantu kondisi berpikir kerasnya.

Begitulah pengalaman saya dalam mendidik ulang diri saya sendiri. Bagaimana dengan mu?

3 respons untuk ‘Refleksi Tentang Pendidikan Ulang (Re-education)

  1. Saya kira re-education dalam arti yang sebenarnya, mengulang pelajaran dari SD, hehe.. nggak ding.
    Setuju nih pendapatnya kak. Untuk bisa lebih ahli dalam sesuatu, maka harus mengasah keterampilan yang dimiliki 😀

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s