Belajar dari Keterpaksaan

Gimana sih rasanya ketika segala sesuatu hal dirasa terpaksa? Rasanya jadi malas gak mau lakuin dan kemudian jadi jijik sama orang yang maksanya. Ketika dilakukan pun malah jadi gak berkesan sama sekali. Ini refleksi saya selama beberapa hari terakhir. Aku memikirkan kenapa kepribadian aku maksa banget ke orang lain dan as fuck as hell aku benci diriku sendiri karena ini.

Belajar dari Pola Orang Tua

Jawabannya sederhana memang. Aku belajar pola memaksa itu dari orang tua aku langsung. Itu didapat dari bagaimana orang tua memperlakukan aku. Jadilah begini, menurun padaku. Perlakuan serba maksa dari orang tua itu bikin aku benci terhadap orang tua dan kadang jadi malas untuk bantu atau memenuhi paksaan mereka. Aku lebih cenderung menunda, pokoknya males aja gitu. Jijik aja rasanya disuruh-suruh terus tanpa melihat kesiapan aku gimana.

Pola ini membuat trauma juga sebenarnya: dipaksa masuk sekolah, dipaksa beresin masalah sekolah sendiri, dipaksa mengerjakan tugas sendiri, dipaksa sekolah agama, dan terus dipaksa. Orang tua gak sadar kalau aku dulu punya masalah emosional sehingga sulit beradaptasi dengan emosi itu. Kemudian mereka paksa aku untuk masuk saja tanpa bantu aku. Itu adalah bentuk penyiksaan yang nyata buat aku. Kemudian ketika aku merasa gagal, apa respon mereka? Menyalahkan kalau itu semua salah aku. Ya, mengingat itu lagi bikin aku ingat kalau aku pernah hancur berkeping-keping oleh orang tua ku sendiri. Aku malah dibebani untuk sembuhkan jiwaku sendiri semenjak saya masuk kuliah.

Belajar dari Paksaan

Paksaan yang ku alami sebenarnya punya 1/10 keuntungan yaitu bikin aku belajar situasi yang terjadi padaku. 9/10 nya adalah siksaan dan penderitaan. Aku berpikir ini adalah bentuk kegagalan pengasuhan orang tua ku sendiri. Ini dikarenakan kurangnya sumber daya pengetahuan mengenai pengasuhan. Mereka hanya bergantung pada pengalaman mereka selama mereka jadi anak kemudian meneruskan penderitaan mereka pada ku dalam bentuk paksaan dan siksaan.

Setelah tahu pola menyebalkan itu, ya akhirnya aku rasakan dan alirkan emosi itu keluar dari tubuhku. Kemudian bertekad kalau penderitaan ini berakhir di aku saja. Tak akan aku alirkan pada orang lain lagi. Sederhananya karena merasa bisa sendiri di kala butuh bantuan, itu malah membuat diri semakin mudah lakukan kekerasan. Pemaksaan adalah salah satu bentuk kekerasan. Itu terjadi padaku karena mereka punya keinginan, aku belum siap, dan mereka memaksakan aku untuk memenuhi keinginan mereka. Alasannya untuk apa? Cinta. Keinginan berbalut cinta adalah brutal.

Bagaimana saya mengakhiri pola ini di keluarga saya sendiri

Bicara jujur dan terbuka. Orang tua butuh waktu sendiri untuk akhirnya sadar dan menerima. Mungkin drama-drama anak durhaka akan dimainkan akibat kelemahan emosional dan sumber daya pengetahuan orang tua. Aku bicara kalau yang mereka lakukan selama ini salah dan menimbulkan penderitaan di diri aku. Sehingga keinginan mereka atas nama cinta harus dihentikan dan itu adalah akhir dari pembudakan pada anak sendiri.

Waktu itu aku bicara dalam kondisiku yang sedang psikotik berat. Pola pemaksaan ini berujung pahit dengan lemahnya kesehatan jiwa aku dan mulai menurunnya fungsi mental diriku sendiri. Butuh waktu sekitar 3 bulan lamanya buat ibu aku menerima kondisi yang terjadi padaku. Itu adalah momen ketika akhirnya ibu meminta maaf atas semua yang ia lakukan padaku selama ini. Itu terjadi pada tahun 2016.

Aku ingat ketika aku SD, aku pernah teriak pada ibu “jangan pukul aku lagi! aku bukan binatang!”

Kalau gak nurut, aku dipukuli oleh bapak maupun ibu. Itu pengalaman yang mengerikan buat aku. Kemudian setelah aku dipukuli, aku menangis. Aku dipukuli lagi karena aku menangis. Terus apa yang mereka bilang? “Berhenti menangis!” Mereka gak mau bertanggung jawab atas apa yang mereka perbuat. Tampaknya peristiwa ini membekaskan trauma mendalam buat aku. Inilah yang bikin aku sendiri benci pada orang tua sendiri.

Pada dasarnya, memaksa orang lain itu adalah bentuk kekerasan. Untuk lakukan sesuatu, orang butuh persetujuan. Diri punya kebebasan untuk menerima ataupun menolak permintaan. Untuk sekarang aku cukup bilang pada diriku sendiri “it’s okay to sad and cry.” Lalu aku belajar untuk hentikan pola memaksa pada orang lain dengan konsen.

PERSETUJUAN adalah pelajaran yang tidak saya dapatkan dari orang tua saya. Terlepas kegagalan pengasuhan mereka, aku akhirnya mengasuh diriku sendiri.

(saya menulis ini sambil merinding sekujur tubuh karena ingat lagi peristiwa traumatik itu)

Postingan ini merupakan bagian dari kampanye #1minggu1cerita

Satu respons untuk “Belajar dari Keterpaksaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s