Twinflame: Apakah Nyata?

Pernah aku menunjukan keyakinan aku tentang fenomena twinflame dalam postingan sebelumnya yang berjudul Setelah Kehilangan: Perjalanan Twinflame, Bagaimanapun Kau Akan Kembali: Lanjutan Perjalanan Twinflame, dan Mengalamatkan Gejala Cemas dan Mengatasinya Lebih Baik. Aku sudah jelaskan proses pelepasan. Kemudian saya berakhir menemukan diri saya sendiri. Twinflame kini disadari sebagai delusi dan akhirnya aku lepas darinya.

Kenapa bisa terasa nyata?

Aku temukan ini karena mekanisme pertahanan diri. Aku merasa tidak mampu menghadapi realita kehidupan sehingga menciptakan dunia lain sebagai pelarian. Aku menghidupi itu seakan itu nyata. Aku pun memaksakan orang yang ku anggap sebagai twinflame untuk jadi pasangan ku. Kemudian aku sadari sendiri kalau ada motif kekerasan tak sadar.

“Aku ingin melakukan balas dendam,” tutur diriku ketika refleksi.

Itulah sisi keji dari bayang-bayang. Menjerumuskan diri dan buat diri percaya sesuatu yang salah. Tujuannya baik: menyelamatkan aku dari realita yang aku rasa mengancam diriku. Namun, itu sudah gak perlu lagi.

Yang sudah aku lalui

Aku sudah lakukan rutinitas perawatan diri, menata kegiatan, membuat skala prioritas untuk hidup, sambil terus melanjutkan penyembuhan trauma dan eksplorasi diri. Proses ini dilakukan dengan tekun dan konsisten. Ini efektif mengubah pola dan perilaku sehari-hari.

Kemudian aku mendapatkan pasangan hidup baru yang lepas dari konsep twinflame. Aku merasa beruntung menemukan pasangan yang cocok. Aku menerapkan pengetahuan relasi sehat dari Sugar Camp pada hubungan ku ini. Aku merasa senang sekali karena pengalaman ini menyenangkan. Yang menyebalkan adalah menahan rindu karena jarak kami jauh.

Penyesalan

Aku merasa malu karena menggunakan konsep twinflame sebagai pembenaran untuk menjalin hubungan dengan seseorang. Ini merupakan suatu bentuk kekerasan yang awalnya gak disadari. Pengakuan dan penerimaan soal adanya luka benar diperlukan untuk bisa lepas dari pola kekerasan tak sadar ini.

Ada waktunya diri akhirnya bisa jujur pada diri sendiri. Ini adalah momen yang sangat disyukuri. Meskipun yang dikatakan itu tidak sesuai dengan harapan, itu adalah ungkapan paling jujur. Pada akhirnya, proses ini menghubungkan kembali antara tubuh dan pikiran. Lalu diri akan bertemu dengan realita yang sesungguhnya.

4 respons untuk ‘Twinflame: Apakah Nyata?

  1. Saya baru baca tentang twin flame setelah baca postingan ini. Sepertinya konsep twin flame ini bisa saja buruk namun bisa juga positif tergantung dari bagaimana kita bisa mengendalikan diri dalam relationship ya. Kalau terlalu berlebihan menganggap pasangan adalah separuh jiwa kita memang sepertinya kurang baik juga, toh kita sebagai makhluk sosial pun memiliki peran sebagai makhluk individu yang seringkali membutuhkan ruang sendiri untuk bisa berkembang. However, semoga proses kakak dalam memperbaiki diri untuk tak lagi menggunakan konsep ini dapat berjalan sesuai dgn harapan ya kak. Salam kenal!👋🏻

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s