Ibadah bukan Jawaban, Memahami Pintas Spiritual

Aku suka gemas sama orang yang bilang, “ada masalah, ibadah saja.” Aku lakukan ibadah kemudian masalah tetap ada dan gak beres. Baik itu masalah kehidupan bahkan masalah kejiwaan. Aku sadar kalau ini cuma sekedar pengalihan saja dan jadi mendistorsi tujuan ibadah yang aku yakini.

Dari pengalaman ini, saya belajar untuk terus hadapi masalah dan memisahkan itu dari perihal praktik agama. Praktik agama punya ruang tersendiri di diri saya dan bagaimana pun krisis psikologis harus dihadapi. Memang kesal bagi saya karena menemui orang-orang yang mencampurkan urusan praktik agama dan perkembangan diri. Nah cara seseorang mengalihkan diri dari isu psikologis dengan ibadah disebut sebagai spiritual bypassing. Aku gunakan padanan kata pintas spiritual berikutnya.

Apa itu Pintas Spiritual?

Dilansir dari psychologytoday.com, John Welwood menjelaskan pintas spiritual sebagai menggunakan “ide dan praktik spiritual untuk menghindari urusan pribadi dan emosional yang belum selesai, untuk menopang perasaan diri yang goyah, atau untuk meremehkan kebutuhan dasar, perasaan, dan perkembangan. Tujuan dari praktik ini adalah pencerahan. Landasan dari pintas spiritual pada dasarnya adalah penghindaran dan represi; dan bagi beberapa individu, spiritualitas berfungsi sebagai cara untuk mengatasi atau menangani kondisi jiwa yang goyah.

Lonerwolf.com menjelaskan dalam definisi sederhana, pintas spiritual adalah menggunakan spiritualitas untuk menghindari, menekan, atau melarikan diri dari masalah yang tidak nyaman dalam hidup.

Ketika latihan spiritual digunakan untuk mengimbangi sifat-sifat yang menantang seperti harga diri yang rendah, isolasi sosial, atau masalah emosional lainnya, kata Welwood, latihan tersebut merusak penggunaan praktik spiritual yang sebenarnya.

Banyak dari kita mengenal individu yang lari dari masalah dengan mengikuti retret spiritual atau pergi ke pesantren. Namun, ketika orang-orang ini kembali ke rumah, meskipun mereka mungkin merasa tercerahkan untuk waktu yang singkat, mereka pada akhirnya dipicu oleh masalah yang membawa mereka dalam perjalanan spiritual mereka. Semua ketakutan, kebingungan, dan drama masih ada di tempat mereka meninggalkannya, dan tidak ada yang benar-benar tercapai.

Welwood juga menyatakan bahwa kemarahan adalah emosi atau gelombang kosong yang muncul di lautan kesadaran, seringkali tanpa makna. Perasaan ini juga bisa menyebabkan pelampauan spiritual. Kemarahan sering kali berasal dari emosi yang tertekan yang tidak diatasi, dan bisa menjadi luar biasa. Saat meluangkan waktu untuk mengenali jenis emosi menantang yang sedang dilewati, kita belajar cara menanganinya. Hal yang paling efektif untuk dilakukan adalah mengakui emosi, duduk bersamanya, dan menghormatinya tanpa menekannya. Pada dasarnya, jangan berikan kekuatan apa pun.

Welwood mengatakan bahwa banyak klien yang datang kepadanya dengan suatu kebuntuan dalam hidup mereka sehingga latihan spiritual mereka tidak dapat menembus atau membantu, apakah masalah kepribadian atau masalah hubungan. Dia selalu kagum dengan kenyataan bahwa meskipun orang-orang ini mungkin telah mempraktikkan latihan spiritual yang canggih, mereka sering tidak mempraktikkan cinta diri.

Tanda-tanda Pintas Spiritual

Ini adalah tanda-tanda pintas spiritual yang diterjemahkan dari psychologytoday.com:

  • Tidak berfokus di sini dan saat ini; hidup di alam spiritual hampir sepanjang waktu.Terlalu menekankan yang positif dan menghindari yang negatif.
  • Menjadi merasa benar sendiri tentang konsep pencerahan.
  • Menjadi terlalu terpisah.
  • Menjadi terlalu idealis.
  • Memiliki perasaan berhak.
  • Sering menunjukkan kemarahan.
  • Terlibat dalam disonansi kognitif.
  • Terlalu penyayang.
  • Berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja padahal sebenarnya tidak.

Refleksi

Motivasi untuk menulis tentang pintas spiritual ini muncul setelah percakapan dengan seseorang. Aku sadar betul pola yang dialami orang itu dan ingat kembali pola sama yang ku lakukan pada 2016 lalu. Waktu itu aku berada di ujung kewarasan dan saya merasa saya perlu berhenti hidup dan pindah ke pesantren. Itu karena saking tidak pahamnya dengan kondisi yang aku alami. Setelah lalui kehancuran mental, aku membangun kembali pemahaman diriku dan mengatasi isu-isu emosional yang belum terselesaikan sejak aku kecil. Ternyata itu banyak sekali dan butuh 3 tahun lebih saat ini untuk mengatasinya. Seringkali aku merasa memiliki perkembangan jiwa dan emosional yang terlambat. Namun ini jauh lebih baik daripada tidak sama sekali.

Referensi

https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-empowerment-diary/201901/what-is-spiritual-bypassing

https://lonerwolf.com/what-is-spiritual-bypassing/

Satu respons untuk “Ibadah bukan Jawaban, Memahami Pintas Spiritual

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s