Reina dan Karunia

Pada hari ini aku meminta kepada Tuhan untuk anugerahi hidupku.

“Hidup itu senantiasa anugerah, bukan?” Ucapan Reina terngiang di pikiran ku.

“Bukan, itu bukan… maksud ku soal sesuatu yang baru dan aku harapkan,” jawab ku waktu itu.

Pagi ini matahari terbit terlihat menyambut diri ku. Kemudian aku lihat ponselku berdering. Pasti Reina lagi, pikir ku. Aku mungkin sebaiknya tidur saja di rumah seharian.

“Tapi… kamu tinggal sebatang kara sendirian di rumah. Aku harus merawat mu,” ucapan Reina terngiang di pikiran ku.

Iya memang aku sebatang kara dan hidup sendiri dari tunjangan asuransi kematian orang tua ku. Semua ini cukup untuk ku hidup bahkan sampai usia ku 30 tahunan.

“Ayolah Ka! Karunia! Kamu masih punya mimpi dan masa depan,” terngiang lagi ocehan Reina.

Iya, Reina senantiasa menekan tombol di diriku. Aku rasanya kesal aja. Tapi karena aku yang ditekan tombolnya, sebenarnya aku yang perlu menguruskan itu.

Terbiasa sendiri memang membosankan…

Satu respons untuk “Reina dan Karunia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s