Menjiwai Tubuh Seksual Saya

Menginjak usia 24 tahun, saya menemukan siklus yang menjadi krusial dalam kehidupan sehari-hari saya: seks. Saya melakukan eksplorasi tubuh dan memahami kenikmatan yang masih ada dalam tubuh saya. Bagaimana pun, tubuh saya adalah milik saya dan perlu untuk saya pelajari dan pahami lebih baik daripada sebelumnya.

Saya prihatin karena referensi mengenai tubuh dan seks sulit untuk ditemukan. Saya temukan memang ada referensi terkait itu, dalam hal kesehatan sudah lengkap sekali tetapi jarang sekali yang bahas lebih jelas mengenai kenikmatan seksual. Salah satu yang terngiang di diriku adalah: “apakah ini terjadi karena terhalang tabu?”. Kemudian saya menggulung postingan twitter kemudian melihat juga postingan Instagram teman-teman yang menunjukan gaya hidup seks positif, bahwa tubuh dan kenikmatan adalah sesuatu yang bisa dibicarakan secara terbuka. Saya sendiri menganggap seks positif sebagai peluang untuk mempelajari tubuh dan kenikmatan lebih luas dan dalam lagi.

Saya tumbuh dengan ketakutan pada tubuh, bahwa tubuh adalah sesuatu yang harus dikekang. Dorongan seksual yang tinggi, yang tidak tahu harus saya kemanakan. Tidak ada akses informasi yang komprehensif telah membuat saya untuk mencari sendiri dengan cara beresiko dan berbahaya. Tidak ada keamanan dan dukungan untuk saya diri remaja waktu itu.

Pembelajaran ini mulai terbuka seluas-luasnya ketika saya menginjak 23 tahun. Ketika saya mencari bantuan edukasi seks ke Komisi Penanggulangan AIDS di Kota. Dipertemukan dengan komunitas-komunitas yang peduli kesehatan seksual dan reproduksi, serta perjalanan panjang dalam menilai kembali makna eksplorasi tubuh.

Budaya sudah membuat diri kita merasa berdosa atas sesuatu yang belum tentu benar. Jika diikuti, saya pikir ada benarnya yaitu untuk keamanan. Oleh karena itu aku mengolah batasan keamanan yang dibentuk oleh budaya. Artinya saya mengevaluasi nilai yang ada kemudian membandingkan dengan realitas yang ada. Pemahaman dalam keamanan dalam kenikmatan adalah sesuatu yang vital dari perjalanan aku dalam memahami tubuh. Praktik cinta diri bahkan tumbuh setelah berhasil mendapatkan kenikmatan sekaligus penerimaan diri dari eksplorasi tubuh ini.

Saya terus menerus mempraktikan dan mengevaluasi proses saya. Di saat seperti ini, mungkin resiko bisa jadi besar ditambah akses ke sumber daya terbatas karena kondisi saya yang belum bekerja. Ini membuat saya menemukan diri saya sendiri kemudian pelan-pelan menerima tubuh saya sendiri.

Hal yang senantiasa mengganggu sebelumnya adalah perasaan tidak kompeten dalam melakukan seks. Perasaan ini melumpuhkan diriku. Aku jadi kehilangan perasaan harga diri dan merasa tidak menarik penampilannya. Ternyata itu adalah kebencian pada diri sendiri sebagai dampak dari nilai sosial yang terinternalisasi ke dalam diri aku. Proses perbaikan ini bersamaan dengan pemulihan personal yang ku lakukan. Aku mengevaluasi nilai-nilai yang ku punya supaya aku dapat menerima tubuh ku dengan damai.

Memahami tubuh dan dapat mengalami kenikmatan dari tubuh adalah suatu anugerah. Yang dilakukan berikutnya olehku sebagai bagian dari praktik embodiment adalah menjiwai tubuh seksual ku. Ini mungkin perjalanan yang panjang tetapi bukan tidak mungkin bahwa referensi soal ini akan tersedia di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s